Dominasi Mutlak Prancis di Piala Dunia 2026: Siapa Mampu Menghentikan Les Bleus?
Baca dalam 60 detik
- Prancis menghancurkan Swedia 3-0 berkat dua gol Kylian Mbappe, memperpanjang rekor lima laga beruntun dengan tiga gol atau lebih.
- Kekuatan kolektif tim, termasuk dukungan emosional untuk pelatih Didier Deschamps yang baru kehilangan ibu, menjadi senjata tambahan.
- Duo Mbappe-Dembele mencatat enam gol kombinasi, terbanyak sejak 1966, menjadikan Prancis favorit mutlak menuju perempat final.

Kylian Mbappe kembali menunjukkan tajinya sebagai predator ulung dengan dua gol yang membawa Prancis melibas Swedia 3-0 di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa (4/7) waktu setempat. Kemenangan di Stadion MetLife, New Jersey, itu tidak hanya mempertegas status favorit Les Bleus, tetapi juga memamerkan harmoni tim yang sulit ditandingi lawan.
Pertandingan sarat emosi bagi pelatih Didier Deschamps, yang baru kembali ke pinggir lapangan setelah menghadiri pemakaman ibunya di Prancis. Usai Mbappe mencetak gol pembuka, ia langsung berlari memeluk Deschamps, diikuti seluruh pemain dalam pelukan kolektif. "Kelompok ini bersatu dan tampil baik saat saya tidak ada," ujar Deschamps. "Semangat tim tidak menjamin kemenangan, tetapi jika sebaliknya, Anda bisa kalah. Kekuatan kolektif di atas segalanya."
Kemenangan ini memastikan Prancis melaju ke perempat final melawan Paraguay di Philadelphia, 9 Juli. Namun, perjalanan mereka sejauh ini sudah memecahkan rekor: menjadi tim pertama yang mencetak tiga gol atau lebih dalam lima pertandingan Piala Dunia beruntun. Total 12 gol dalam empat laga di Amerika Serikat menunjukkan ketajaman luar biasa.
Kekuatan lini depan Prancis menjadi momok bagi setiap pertahanan. Selain Mbappe, Ousmane Dembele (enam kontribusi gol) dan Michael Olise (lima assist) tampil memukau. Mantan bek Inggris Gary Neville menyebut kuartet Mbappe, Dembele, Olise, dan Bradley Barcola "akan menyebabkan mimpi buruk bagi setiap bek". Mantan striker Skotlandia Ally McCoist menambahkan, "Mereka penuh bintang. Favorit tidak selalu menang, tetapi ada alasan mereka difavoritkan."
Bagi Indonesia, dominasi Prancis menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan pemain muda dan harmoni tim. Michael Olise, yang memulai karier di Hayes & Yeading United, adalah contoh nyata bagaimana bakat diaspora dapat bersinar. Dengan banyaknya pemain keturunan Indonesia di Eropa, federasi sepak bola Tanah Air bisa meniru model integrasi Prancis yang memadukan talenta imigran dengan sistem akademi solid.
Deschamps tetap rendah hati meski timnya digadang-gadang sebagai kandidat juara. "Tolong jangan gegabah," katanya. "Kami baru mencapai babak 16 besar. Masih banyak ruang perbaikan. Kami harus tenang." Namun, dengan performa seperti ini, pertanyaan besarnya bukan apakah Prancis bisa juara, melainkan siapa yang mampu menghentikan laju mereka menuju final?



