Keiko Fujimori Menang Tipis di Pilpres Peru, Warisan Kontroversial Sang Ayah Kembali Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Keiko Fujimori, putri mantan presiden kontroversial Alberto Fujimori, memenangkan pilpres Peru dengan selisih hanya 0,2% suara.
- Kemenangan ini menandai keberhasilan keempat kalinya Fujimori mencalonkan diri, di tengah isu keamanan dan ekonomi yang mendominasi kampanye.
- Hubungan bilateral dengan Jepang diprediksi menguat, sementara warisan hak asasi manusia ayahnya masih menjadi perdebatan.

Keiko Fujimori, politikus konservatif berusia 51 tahun, dipastikan memenangkan pemilihan presiden Peru setelah perolehan suara akhir menunjukkan keunggulan tipis atas lawannya dari kubu kiri, Roberto Sรกnchez. Keputusan resmi dari otoritas pemilu dijadwalkan paling lambat Jumat pekan ini, dan jika dilantik pada 28 Juli mendatang, ia akan menjadi presiden perempuan pertama sekaligus pemimpin kedua keturunan Jepang di negara tersebut.
Hasil hitung penuh yang dirilis Komisi Pemilihan Umum Peru menempatkan Fujimori dengan 50,1 persen suara, sementara Sรกnchez, mantan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata, hanya meraih 49,9 persen. Ketatnya persaingan membuat proses verifikasi suara berlangsung berhari-hari, mencerminkan polarisasi politik yang dalam di negara Andean itu. Ini adalah upaya keempat Fujimori meraih kursi kepresidenan setelah tiga kekalahan sebelumnya.
Kampanye pemilu kali ini berpusat pada isu keamanan dan pemulihan ekonomi, di tengah ketidakstabilan politik dan skandal korupsi yang melanda Peru. Fujimori mengusung citra tangan besi yang diwarisi dari ayahnya, Alberto Fujimori, yang memerintah dari 1990 hingga 2000. Sang ayah dikenal sukses memulihkan ekonomi dan memberantas pemberontakan kiri, namun juga dihukum karena pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.
Kemenangan Fujimori membawa kembali sorotan pada warisan kontroversial keluarganya. Alberto Fujimori, yang merupakan presiden pertama keturunan Jepang di Peru, dipuji karena mengatasi hiperinflasi dan mengalahkan kelompok gerilyawan Shining Path serta MRTA. Namun, ia juga dijatuhi hukuman penjara atas pembantaian dan penculikan selama pemerintahannya. Keiko sendiri sempat ditahan pada 2018 atas tuduhan korupsi, meskipun ia membantah dan akhirnya dibebaskan.
Bagi Indonesia, dinamika politik Peru menarik diamati sebagai negara dengan kesamaan sebagai negara berkembang yang kaya sumber daya alam. Peru adalah produsen tembaga dan perak terbesar kedua di Amerika Latin, serta mitra dagang penting bagi Indonesia di kawasan Pasifik. Kebijakan ekonomi Fujimori yang pro-bisnis dan fokus pada keamanan dapat mempengaruhi stabilitas investasi di sektor pertambangan dan energi.
Dalam wawancara sebelumnya, Fujimori menyatakan keinginan untuk memperkuat hubungan dengan Jepang, termasuk kunjungan kenegaraan awal. Hal ini berpotensi membuka peluang kerja sama trilateral dengan Indonesia, mengingat posisi Jepang sebagai mitra strategis bagi kedua negara. Namun, catatan hak asasi manusia di bawah rezim ayahnya masih menjadi isu sensitif yang dapat mempengaruhi persepsi internasional.
Keberhasilan Fujimori juga menandai kebangkitan politik kanan di Amerika Latin, setelah gelombang kiri yang mendominasi beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya, mampukah ia menyatukan negara yang terbelah dan mengatasi tantangan ekonomi seperti inflasi dan ketimpangan? Atau justru warisan otoritarianisme ayahnya akan kembali menghantui pemerintahannya?



