Taliban Serang Perbatasan Pakistan: Eskalasi Baru yang Mengancam Stabilitas Asia Selatan
Baca dalam 60 detik
- Rezim Taliban Afghanistan melancarkan serangan ke wilayah Balochistan, Pakistan, melukai sejumlah warga dan memicu respons militer Islamabad.
- Serangan ini merupakan balasan atas gempuran udara Pakistan pekan lalu yang menewaskan puluhan warga sipil Afghanistan, menurut klaim Kabul.
- Ketegangan kedua negara yang sempat mereda setelah gencatan senjata Oktober lalu kini kembali memanas, berpotensi mengguncang kawasan Asia Selatan.

Ketegangan di perbatasan Afghanistan-Pakistan kembali memuncak setelah rezim Taliban Afghanistan mengklaim telah melancarkan serangan ke wilayah Pakistan, mencederai sejumlah orang di Provinsi Balochistan. Langkah ini menjadi babak baru dalam konflik berkepanjangan yang sempat mereda setelah gencatan senjata Oktober lalu.
Militer Pakistan mengaku telah menembak jatuh empat drone sederhana yang digunakan dalam serangan tersebut dan memperingatkan bahwa provokasi lebih lanjut akan mendapat respons setimpal. Hingga berita ini diturunkan, BBC belum dapat memverifikasi secara independen klaim dari kedua belah pihak.
Serangan Taliban ini merupakan respons langsung atas gempuran udara Pakistan pada Minggu lalu yang, menurut PBB, menewaskan 28 warga sipil. Kabul menempatkan angka korban lebih tinggi: 36 tewas dan lebih dari 160 luka-luka, dengan sasaran berupa rumah-rumah penduduk. Islamabad membantah dan menyatakan hanya menargetkan persembunyian militan.
Pakistan sejak lama menuduh Afghanistan menjadi tempat persembunyian teroris yang melancarkan serangan ke wilayahnya—tuduhan yang ditolak keras Taliban. Sebaliknya, Kabul menuduh Islamabad melakukan serangan tanpa pandang bulu yang banyak memakan korban sipil. Saling tuding ini menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit diputus.
Bagi Indonesia, konflik di perbatasan Afghanistan-Pakistan bukan sekadar berita jauh. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan anggota OKI, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan Asia Selatan. Eskalasi ini berpotensi memicu gelombang pengungsi baru dan memperkuat jaringan militan transnasional yang bisa berdampak pada keamanan regional, termasuk di Asia Tenggara.
Sejarah pertikaian kedua negara menunjukkan pola serangan balasan yang kerap menimbulkan korban sipil. Pada Februari lalu, bentrokan perbatasan menewaskan puluhan orang. Maret menyaksikan serangan Pakistan ke pusat rehabilitasi narkoba di Kabul yang menewaskan ratusan orang. Awal Juni, Pakistan kembali melancarkan serangan udara yang menewaskan 26 militan, namun Taliban mengklaim 13 korban adalah anak-anak.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa operasi militernya menewaskan 29 militan sebagai respons atas "serangan teroris terbaru terhadap rakyat tak bersalah". Namun, ketiadaan verifikasi independen membuat angka korban masih menjadi perdebatan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua pihak mampu menahan diri atau justru terperosok ke dalam konflik terbuka. Gencatan senjata Oktober lalu yang sempat meredakan ketegangan kini tampak rapuh. Tanpa mediasi internasional yang kuat, eskalasi lanjutan bukanlah kemustahilan—dan dampaknya bisa meluas jauh melampaui perbatasan kedua negara.



