Dividen Bukan Jaminan Aman: Investor RI Wajib Paham Risiko Overkonsentrasi Saham Berpendapatan Tetap
Baca dalam 60 detik
- Para ahli memperingatkan bahwa terlalu bergantung pada aset penghasil dividen dapat membuat investor kehilangan peluang pertumbuhan di sektor seperti AI dan teknologi.
- Dividen bukanlah indikator keamanan mutlak; perusahaan bisa memotong pembayaran, dan dana terkadang membagikan modal, bukan laba.
- Investor Indonesia perlu menyeimbangkan portofolio dengan aset pertumbuhan dan pendapatan tetap, serta mewaspadai risiko inflasi yang menggerus daya beli di masa pensiun.

Strategi investasi berbasis dividen memang populer di kalangan investor ritel, tetapi para pakar keuangan memperingatkan bahwa terlalu fokus pada aset penghasil pendapatan tetap justru bisa menjadi bumerang, terutama di tengah gejolak pasar dan inflasi yang terus menggerus daya beli.
Chez Anbu, Kepala Penasihat Kekayaan di OCBC, menegaskan bahwa risiko terbesar adalah menganggap pendapatan sebagai jaminan keamanan. Menurutnya, saham dividen bisa anjlok tajam, perusahaan dapat memotong pembayaran, dan penerbit obligasi berpotensi gagal bayar. Bahkan, beberapa dana investasi terkadang membagikan distribusi dari modal, bukan dari pendapatan investasi. Hal ini membuat investor yang hanya mengandalkan dividen rentan terhadap kejutan pasar.
Senada dengan itu, Cheng Chye Hsern, Kepala Investasi Providend, menambahkan bahwa investor yang terlalu terobsesi pada dividen kerap melewatkan peluang di sektor pertumbuhan tinggi, seperti saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan dengan prospek pertumbuhan kuat cenderung menahan laba untuk reinvestasi, bukan membagikannya sebagai dividen. Akibatnya, portofolio yang sarat saham dividen berpotensi menghasilkan imbal hasil total yang lebih rendah dalam jangka panjang.
Meski demikian, dividen tetap memiliki tempat dalam portofolio, terutama sebagai sumber pendapatan reguler yang tidak bergantung pada kenaikan pasar. Ritesh Ganeriwal, Kepala Investasi dan Penasihat di Syfe, menyebut dividen sebagai jangkar yang berharga di tengah ketidakpastian. Namun, ia mengingatkan bahwa fundamental bisnis masih kuat meskipun tekanan politik global membebani biaya pendanaan dan energi. Bank-bank Singapura dan REITs masih membayar dividen yang menarik, tetapi investor harus siap menghadapi volatilitas nilai pasar.
Bagi investor Indonesia, pelajaran dari Singapura ini relevan. Pasar modal Indonesia juga didominasi saham sektor perbankan, properti, dan infrastruktur yang kerap menjadi andalan dividen. Namun, dengan suku bunga acuan yang masih tinggi dan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, terlalu bergantung pada dividen bisa berisiko. Apalagi, produk reksa dana pendapatan tetap di Indonesia juga rentan terhadap fluktuasi suku bunga, mirip dengan REITs di Singapura.
Para ahli menekankan pentingnya diversifikasi. Investor muda disarankan untuk lebih agresif pada aset pertumbuhan, sementara mereka yang mendekati masa pensiun boleh memperbanyak porsi pendapatan tetap. Namun, Chez Anbu mengingatkan bahwa pensiun bisa berlangsung puluhan tahun, dan inflasi akan menggerus daya beli. Oleh karena itu, portofolio tetap membutuhkan mesin pertumbuhan, bukan hanya mesin pendapatan.
Langkah bijak adalah memulai dengan menilai kebutuhan arus kas jangka pendek, lalu mengalokasikan dana ke obligasi berkualitas tinggi untuk pendapatan yang dapat diprediksi. Baru setelah itu, tambahkan saham dividen, REITs, atau dana ekuitas pendapatan untuk memberikan dimensi pertumbuhan. Proporsi akhir harus mencerminkan jangka waktu investasi dan toleransi risiko masing-masing individu.
Ke depan, investor perlu bertanya: apakah portofolio saya cukup tangguh menghadapi inflasi dan volatilitas, atau justru terlalu nyaman dengan dividen hingga melupakan pertumbuhan? Jawabannya akan menentukan apakah strategi dividen masih relevan atau justru menjadi jebakan.



