Dari Candaan 'Kecoak' Jadi Gerakan Massa: Ribuan Mahasiswa India Duduki Delhi Tuntut Menteri Mundur
Baca dalam 60 detik
- Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang lahir dari komentar kontroversial Ketua Mahkamah Agung India kini menjelma menjadi protes jalanan besar-besaran di tengah suhu 40 derajat Celsius.
- Aksi yang dipicu bocornya soal ujian masuk kedokteran NEET-UG ini menuntut mundurnya Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan, dengan dukungan 22 juta pengikut Instagram dan tokoh aktivis Sonam Wangchuk.
- Meski pemerintah telah menggelar ujian ulang, kemarahan mahasiswa tak surut; mereka menganggap kasus ini simbol kegagalan sistem pendidikan dan akuntabilitas di India.

Ribuan mahasiswa dan aktivis muda India bertahan di bawah terik matahari 40 derajat Celsius di kawasan Jantar Mantar, Delhi, selama sepuluh hari terakhir. Mereka menuntut satu hal: Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan harus bertanggung jawab atas bocornya soal ujian masuk kedokteran NEET-UG dan segera mundur dari jabatannya.
Protes ini digerakkan oleh Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan satir yang lahir dari komentar pedas Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant pada pertengahan Mei lalu. Hakim tersebut menyebut para pengangguran yang beralih menjadi jurnalis dan aktivis sebagai "kecoak" dan "parasit". Meski kemudian ia mengklarifikasi bahwa ucapannya hanya tertuju pada pemilik ijazah palsu, amarah publik sudah terlanjur meledak.
Abhijeet Dipke, mahasiswa pascasarjana kebijakan publik di Boston University, menjadi tokoh sentral di balik gerakan ini. Saat mendengar pernyataan hakim agung, ia menulis cuitan di X: "Bagaimana jika semua kecoak bersatu?" Cuitan itu viral, memicu gelombang meme dan diskusi yang akhirnya melahirkan CJP—nama yang sengaja memelesetkan partai berkuasa BJP pimpinan Narendra Modi. Dalam hitungan hari, akun Instagram CJP mengumpulkan 22 juta pengikut.
"Awalnya hanya lelucon, tapi jutaan orang mulai mendaftar dan mendesak kami serius karena tidak ada partai politik lain yang membicarakan kebutuhan mereka," ujar Dipke kepada BBC di lokasi protes. CJP kemudian memilih isu bocornya NEET-UG sebagai agenda pertama—sebuah ujian yang diikuti lebih dari 1,8 juta calon dokter setiap tahunnya. Pada awal Mei, ujian tersebut dibatalkan setelah kertas soalnya bocor, memicu kepanikan dan kemarahan di kalangan pelajar, terutama dari keluarga miskin yang menggantungkan hidup pada hasil ujian.
Pemerintah India menanggapinya dengan sinis. Menteri Pradhan menyebut CJP sebagai "tim B dari elemen pengganggu" yang tidak percaya pada kemajuan negara. Ketua BJP Nitin Nabin bahkan memperingatkan munculnya "virus baru dan partai seperti kecoak" yang hendak menghancurkan bangsa. Namun, di Jantar Mantar, semangat demonstran justru menguat. Sebuah dinding memorial dipajang di bawah tenda kuning, memajang foto 14 mahasiswa yang bunuh diri setelah ujian dibatalkan—jumlahnya kini mendekati 20 orang.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin ironis. Sistem ujian nasional yang bocor berulang kali, tekanan psikologis pelajar dari keluarga prasejahtera, serta respons pemerintah yang cenderung defensif adalah problem yang tak asing. Di Indonesia, kasus kebocoran soal Ujian Nasional atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) juga pernah terjadi, meski tak pernah memicu gerakan sebesar CJP. Bedanya, di India, kemarahan terakumulasi melalui media sosial dan meledak menjadi aksi jalanan yang terorganisir. Pertanyaannya, apakah model gerakan seperti ini bisa direplikasi di Indonesia jika sistem pendidikan tak kunjung diperbaiki?
Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan dari Ladakh yang menginspirasi film Bollywood, bergabung dalam aksi dan memulai mogok makan tanpa batas waktu. "Sistem pendidikan bermasalah besar, bahkan ujiannya pun gagal. Saya di sini untuk mendukung anak muda menuntut akuntabilitas," katanya. Saat ditanya berapa lama ia sanggup bertahan di suhu 40 derajat, ia menjawab: "Saya tidak terlalu memikirkan kesehatan. Antara mati atau mogok makan tanpa batas, mana yang lebih dulu."
Juru bicara CJP, Saurav Das, menegaskan bahwa mundurnya Pradhan hanyalah satu pertempuran. "Perang sesungguhnya adalah untuk mendapatkan sistem yang transparan, akuntabel, dan mau menjawab. Itu perjuangan jangka panjang." Di tengah himpitan barikade polisi dan sengatan matahari, para demonstran terus bertahan. Mereka sadar bahwa melawan mesin politik raksasa bukanlah perkara mudah—tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, suara mereka terdengar.



