Naira Menguat di Tengah Lonjakan Transaksi Valas Antar Bank 20%
Baca dalam 60 detik
- Naira menguat 0,3% terhadap dolar AS di pasar resmi Nigeria setelah volume transaksi antar bank melonjak 20% menjadi $269,9 juta.
- Bank sentral Nigeria (CBN) mengurangi intervensi valas selama dua bulan terakhir, namun cadangan devisa naik ke $51,4 miliar berkat aliran minyak.
- Penguatan naira terjadi di tengah tekanan permintaan valas pekan lalu, sementara harga minyak mentah masih terancam penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi.

Naira Nigeria berhasil membalikkan tekanan pekan lalu dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valas resmi, didorong oleh peningkatan likuiditas yang signifikan. Pada Selasa (25/6), mata uang terbesar di Afrika Barat itu ditutup di level N1.379,68 per dolar, naik tipis dari posisi sebelumnya N1.383,63, menurut data harian bank sentral Nigeria (CBN).
Lonjakan volume transaksi antar bank menjadi katalis utama penguatan ini. Data CBN menunjukkan turnover valas antar bank melonjak 20% menjadi $269,9 juta dari $223,9 juta pada hari sebelumnya. Meskipun jumlah transaksi menurun dari 177 menjadi 166, peningkatan volume mengindikasikan bahwa bank-bank komersial lebih agresif memfasilitasi permintaan korporasi. Rentang kurs transaksi harian tercatat antara N1.370 hingga N1.384 per dolar, level terbaik dalam lima hari terakhir.
Penguatan ini menjadi angin segih setelah naira tertekan pekan lalu akibat lonjakan permintaan valas. Yang menarik, CBN justru mengurangi intervensi di pasar valas resmi dan tidak menyuntikkan dolar selama hampir dua bulan. Langkah ini kontras dengan kebijakan sebelumnya yang kerap menggelontorkan dolar untuk menopang naira. Analis menilai strategi ini bagian dari upaya bank sentral untuk mendorong penemuan harga pasar yang lebih realistis dan mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung.
Di sisi fundamental, cadangan devisa Nigeria naik menjadi $51,43 miliar, ditopang oleh aliran masuk dari sektor hidrokarbon. Namun, tekanan eksternal masih membayangi. Harga minyak mentah Brent dan WTI memang naik tipis pada sesi Selasa, tetapi tetap berada dalam jalur menuju penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi Covid-19. Situasi geopolitik—termasuk potensi dialog AS-Iran, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, serta perubahan ekspektasi pasokan global—menjadi faktor penentu arah harga minyak ke depan.
Bagi Indonesia, dinamika naira dan pasar minyak Nigeria relevan mengingat posisi keduanya sebagai eksportir minyak utama. Kebijakan CBN yang mengurangi intervensi valas bisa menjadi pelajaran bagi Bank Indonesia dalam mengelola tekanan rupiah di tengah fluktuasi harga komoditas. Di sisi lain, pelemahan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi menekan penerimaan negara dari sektor migas, baik bagi Nigeria maupun Indonesia.
Ke depan, kemampuan naira mempertahankan penguatan akan sangat bergantung pada konsistensi likuiditas valas dan pergerakan harga minyak. Jika tekanan permintaan valas kembali meningkat tanpa diimbangi pasokan, naira berpotensi kembali terdepresiasi. Pertanyaan besarnya: akankah CBN tetap bertahan dengan pendekatan tangan lepas, atau kembali mengintervensi jika tekanan memburuk?



