Eden Hazard dan Kenangan Pahit Manis Piala Dunia 2018: Mahakarya yang Tak Selesai
Baca dalam 60 detik
- Eden Hazard mengakui bahwa pencapaian terbaik Belgia di Piala Dunia 2018 adalah menyatukan seluruh negeri, bukan sekadar medali perunggu.
- Kekalahan tipis 0-1 dari Prancis di semifinal menjadi momen paling menyesakkan, namun Hazard tetap bangga dengan perjuangan timnya.
- Generasi emas Belgia mungkin gagal membawa pulang trofi, tapi warisan kebersamaan dan kebanggaan nasional yang mereka ciptakan tak ternilai.

Eden Hazard, maestro sepak bola Belgia yang pensiun pada Oktober 2023, masih menyimpan kenangan mendalam tentang perjalanan timnya di Piala Dunia 2018. Bagi Hazard, turnamen di Rusia itu bukan sekadar raihan medali perunggu—prestasi terbaik Belgia sepanjang sejarah—melainkan sebuah mahakarya yang terasa belum usai. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, ia mengungkapkan bahwa kebanggaan terbesar bukanlah finis ketiga, melainkan bagaimana sepak bola mampu menyatukan Belgia yang terpecah secara bahasa dan budaya.
Belgia tiba di Rusia 2018 dengan status kuda hitam. Di bawah asuhan Roberto Martinez, skuad yang dihuni bintang seperti Romelu Lukaku, Kevin De Bruyne, dan Thibaut Courtois tampil memukau di fase grup. Namun, ujian sesungguhnya datang di babak 16 besar saat mereka tertinggal 0-2 dari Jepang hingga menit ke-52. "Moral jatuh ke titik terendah. Semua orang berpikir, 'Ini bencana, kita akan pulang,'" kenang Hazard. Namun, Belgia bangkit dan mencetak tiga gol, termasuk gol kemenangan di menit-menit akhir. "Saat itu kami menerima video dari rumah—orang-orang bergembira. Di situlah kami sadar untuk siapa kami bermain."
Kemenangan dramatis itu membawa Belgia ke perempat final melawan Brasil, raksasa lima kali juara dunia. Dalam laga yang disebut Hazard sebagai "salah satu penampilan terbaik karier saya," Belgia unggul 2-0 di babak pertama berkat gol Kevin De Bruyne dan kontribusi besar Hazard. Meski Brasil memperkecil kedudukan, Belgia bertahan dan lolos ke semifinal. Hazard mengakui kelelahan setelah laga melawan Jepang mulai terasa, namun tekad untuk terus berjuang mengalahkan segalanya. "Saya duduk di ruang ganti benar-benar kehabisan tenaga, tapi saya ingin menikmati setiap detik kemenangan itu."
Semifinal melawan Prancis menjadi laga yang paling membekas. Gol semata wayang Samuel Umtiti dari sepak pojok pada menit ke-51 sudah cukup untuk mengirim Belgia pulang. Hazard mengakui bahwa pertandingan itu bisa berubah kapan saja. "Ini semifinal Piala Dunia antara dua tim terbaik. Semuanya ditentukan oleh margin yang sangat tipis. Kami punya peluang, mereka juga. Saat itu, Anda hanya merasa hancur karena tidak bisa melaju ke final." Ironisnya, Hazard tumbuh besar sebagai penggemar timnas Prancis—ia menghabiskan masa kecil di Wallonia dan menimba ilmu di akademi Lille. Namun, ketika peluit panjang berbunyi, tak ada ruang untuk sentimen. "Saya orang Belgia, kapten tim Belgia. Saya penggemar nomor satu Belgia. Prancis adalah tim kedua saya, tapi saya ingin menang sendiri."
Kekalahan itu tak menyurutkan semangat Belgia. Mereka bangkit dan mengalahkan Inggris 2-0 di perebutan tempat ketiga, menutup turnamen dengan kepala tegak. Namun, bagi Hazard, momen paling berharga justru terjadi setelah turnamen usai: kepulangan tim ke Brussel. Ribuan penggemar memenuhi Grand Place untuk menyambut para pahlawan mereka. "Gambar-gambar itu akan melekat seumur hidup. Orang-orang lebih banyak membicarakan perayaan di Grand Place daripada Piala Dunia itu sendiri. Untuk beberapa menit, kami merasa seperti juara sejati," ujarnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Belgia 2018 menawarkan pelajaran berharga tentang arti sebuah perjalanan. Di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang akan datang, generasi emas Belgia mengingatkan bahwa terkadang, warisan terbesar bukanlah trofi, melainkan kebersamaan dan kebanggaan yang mampu menyatukan sebuah bangsa. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada generasi berikutnya yang mampu menyelesaikan mahakarya yang tertunda ini?



