Dudung: Pelatihan Calon Manajer Koperasi Desa Dipangkas Jadi 1,5 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Durasi pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk calon manajer Koperasi Merah Putih diperpendek dari dua bulan menjadi satu setengah bulan.
- Kebijakan ini diambil setelah lima peserta meninggal dunia saat latihan dasar kemiliteran, memicu evaluasi menyeluruh terhadap program.
- Materi pelatihan fisik dan kemiliteran dikurangi, dengan fokus baru pada manajemen perkoperasian, sementara Kemhan menghapus latihan menembak.

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, mengumumkan bahwa masa pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih dipangkas dari dua bulan menjadi hanya satu setengah bulan. Langkah ini merupakan respons terhadap serangkaian insiden fatal yang menimpa peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) selama latihan dasar kemiliteran (latsarmil).
Dudung menyampaikan keputusan tersebut saat bertakziah ke rumah duka M Rifki Renaldi, seorang peserta SPPI yang meninggal dunia saat mengikuti latsarmil di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Selasa (30/6). "Saya mendapat informasi waktunya diperpendek, sehingga dipotong dari dua bulan menjadi sebulan setengah," ujarnya. Ia menegaskan bahwa seluruh aspek pelatihan fisik dalam program SPPI kini sedang dievaluasi secara menyeluruh.
Perubahan ini tidak hanya menyangkut durasi, tetapi juga substansi pelatihan. Dudung menekankan bahwa fokus pelatihan kini dialihkan ke manajemen perkoperasian, mengingat para peserta diproyeksikan menjadi manajer koperasi. "Karena ini calon-calon manajer nanti, itu yang dititikberatkan," kata dia. Pergeseran ini mengindikasikan bahwa aspek kemiliteran yang sebelumnya dominan akan dikurangi secara signifikan.
Keputusan ini muncul setelah gelombang kritik publik menyusul kematian lima peserta SPPI dalam beberapa pekan terakhir. Mereka meninggal karena berbagai kondisi kesehatan, mulai dari sengatan panas (heat stroke), tuberkulosis, hingga gagal jantung. Insiden-insiden tersebut memicu evaluasi besar-besaran oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang kemudian memerintahkan penghapusan materi pelatihan menembak dan pengurangan kegiatan fisik berat.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik yang berkaitan dengan latihan kemiliteran akan dikurangi. "Kegiatan fisik dan pelatihan yang berkaitan dengan latihan kemiliteran akan dikurangi," ujarnya. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko kesehatan bagi peserta yang sebagian besar adalah lulusan perguruan tinggi tanpa latar belakang militer.
Dalam kunjungannya ke rumah duka, Dudung juga menyerahkan santunan kepada keluarga Rifki sebagai bentuk kepedulian negara. "Kami datang ke sini dengan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ananda Rifki pada saat pelatihan SPPI. Saya atas nama negara hadir untuk memberikan ucapan bela sungkawa," ujar Dudung. Setelah berdialog, rombongan melakukan ziarah ke makam almarhum.
Program Koperasi Merah Putih sendiri merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk memberdayakan ekonomi desa melalui pengelolaan koperasi profesional. Dengan dipangkasnya durasi pelatihan dan diubahnya fokus kurikulum, muncul pertanyaan apakah kualitas manajer yang dihasilkan akan tetap sesuai target. Pemerintah tampaknya lebih mengutamakan keselamatan peserta, namun efektivitas program dalam mencetak pengelola koperasi yang kompeten masih harus diuji ke depannya.



