Perang Iran dan Demam AI Guncang Pasar Global: Kapitalisasi Melonjak Rp 112.000 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham global menambah kapitalisasi US$7 triliun pada semester I 2026, meskipun perang Iran sempat memicu aksi jual besar-besaran pada Maret.
- Kenaikan indeks didorong euforia kecerdasan buatan (AI) di Asia, sementara yen Jepang terpuruk ke level terendah dalam 40 tahun.
- Bank for International Settlements (BIS) memperingatkan risiko gejolak jika imbal hasil AI tak sesuai ekspektasi, menjelang musim IPO yang padat.

Pasar keuangan global mencatatkan kinerja yang paradoksal pada paruh pertama 2026: di tengah perang Iran yang memicu kejatuhan US$9 triliun pada Maret, kapitalisasi bursa saham dunia justru bertambah US$7 triliun, didorong oleh reli saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang tak terbendung. Indeks MSCI All-Country World melonjak hampir 10 persen, menandai kuartal kedua terbaik sejak 2020, sementara bursa Korea Selatan mencetak rekor dengan kenaikan 100 persen.
Konflik Iran yang memicu harga minyak menyentuh US$120 per barel dan mengubur harapan penurunan suku bunga global nyaris tidak menggoyahkan kepercayaan investor. Charlie Robertson, Kepala Penasihat Ekonomi Equity Bank, menilai fenomena ini mengejutkan bukan karena apa yang terjadi, melainkan karena apa yang tidak terjadi. "Kita mengalami salah satu guncangan geopolitik terbesar yang bisa dibayangkan, namun pasar global tetap kokoh," ujarnya.
Namun di balik optimisme, sejumlah anomali muncul. Tujuh raksasa teknologi yang dikenal sebagai "Magnificent Seven" justru mencatatkan kinerja di bawah rata-rata indeks global. Emas yang sempat melonjak pada Januariโkenaikan bulanan terbesar sejak krisis keuangan globalโkini terperosok lebih dari 12 persen pada Juni, menuju kuartal terburuk sejak 2013. Sementara itu, obligasi Venezuela yang sudah sembilan tahun macet pembayaran justru melesat 55 persen setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS.
Pasar valuta asing diwarnai pelemahan dramatis yen Jepang yang menyentuh titik terendah dalam 40 tahun. Michael Metcalfe, Kepala Strategi Makro Global State Street, memperingatkan bahwa nasib yen kini menjadi titik risiko global. "Jika terjadi krisis yen, permintaan obligasi Jepang bisa berubah drastis, memicu arus balik modal dan aksi jual di pasar lain," katanya. Meski dolar AS menguat 3 persen secara umum, analis BofA menilai posisi greenback masih bersifat sementara.
Kekhawatiran juga datang dari Bank for International Settlements (BIS) yang memperingatkan bahwa jika imbal hasil investasi AI mengecewakan, gejolak besar bisa melanda pasar. Peringatan ini muncul di tengah rencana gelombang IPO perusahaan AI yang menurut Robertson bisa menandai "puncak AI" sebelum akhir tahun. Patrick Dupont-Liot, Managing Director Debt Capital Markets Standard Chartered, merasakan "nada risiko" yang mengintai di balik euforia.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, reli saham teknologi global bisa mendorong minat investor asing ke bursa domestik, terutama sektor digital dan startup. Namun pelemahan yen dan potensi kenaikan suku bunga Jepang berisiko memicu arus keluar modal dari pasar emerging, termasuk Indonesia. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS bisa menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya utang pemerintah.
Memasuki paruh kedua tahun ini, ketidakpastian masih tinggi. Inggris bersiap menyambut perdana menteri baru, Jepang bergulat dengan krisis yen, Ketua Federal Reserve yang baru Kevin Warsh cenderung hawkish, dan Trump bersiap untuk pemilu sela November. Robertson khawatir bahwa membanjirnya IPO AI bisa menjadi titik balik, sementara Dupont-Liot mengingatkan bahwa Trump tidak pernah berhenti mengejutkan. Pertanyaannya, mampukah pasar mempertahankan momentum di tengah pusaran risiko geopolitik dan moneter?



