Antonio Nusa: Bintang Muda Norwegia yang Siap Tantang Idolanya di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Antonio Nusa mencetak gol spektakuler saat Norwegia mengalahkan Pantai Gading di babak 32 besar Piala Dunia 2026, mengingatkan pada gaya Neymar.
- Winger RB Leipzig ini menjadi motor serangan Norwegia dengan kecepatan dan kreativitasnya, serta telah mengoleksi 9 gol dalam 28 penampilan internasional.
- Jika Norwegia melaju, Nusa berpotensi berhadapan dengan idolanya, Neymar, di babak 16 besar pada 5 Juli 2026.

Gol pembuka Antonio Nusa saat Norwegia menundukkan Pantai Gading di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar angka di papan skor. Aksi solo yang memukau itu—dengan kelincahan, keberanian, dan sentuhan magis—langsung mengingatkan publik pada masa kejayaan Neymar. Kini, winger RB Leipzig tersebut berpeluang besar bertemu langsung dengan idolanya di babak 16 besar pada 5 Juli mendatang.
Nusa, yang baru berusia 21 tahun, telah menjadi salah satu pemain kunci Norwegia di turnamen ini. Debut internasionalnya pada September 2023 lalu kini telah berkembang menjadi 28 caps dengan sembilan gol. Angka itu menunjukkan konsistensi dan ketajaman yang jarang dimiliki pemain seusianya. Di Piala Dunia 2026, ia tampil sebagai pembeda—mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap.
Perjalanan Nusa musim ini tidak lepas dari perannya di RB Leipzig. Meskipun Yan Diomande lebih sering menjadi sorotan, Nusa tetap menjadi andalan di sayap. Dalam musim keduanya di Bundesliga, ia menyumbang empat gol dan tiga assist, serta menjadi momok bagi bek lawan dengan kecepatan dan gerak tipu yang sulit ditebak. Leipzig finis di posisi ketiga dan kembali ke Liga Champions, dan Nusa menjadi bagian penting dari keberhasilan itu.
Apa yang membuat Nusa begitu istimewa? Kepercayaan diri, kreativitas, kecepatan, dan kemampuan mencetak gol—ia adalah penghibur sejati. Ia mengaku banyak belajar dari video-video Neymar di YouTube. Gaya bermainnya yang atraktif dan penuh improvisasi memang mengingatkan pada bintang Brasil itu. Jika berhadapan nanti, ini akan menjadi duel generasi yang menarik.
Pelatih Norwegia, Stale Solbaken, memuji performa Nusa dalam 10-12 pertandingan terakhir. "Ia bermain sangat, sangat baik—lebih baik daripada di Leipzig," ujarnya. Sementara itu, mantan pelatih Leipzig Marco Rose menyebut Nusa sebagai pemain hebat dengan dinamika dan pemahaman permainan yang baik. Dukungan penuh dari para pelatih ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki pemain muda tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Nusa bisa menjadi inspirasi. Pemain muda yang berani bermimpi dan bekerja keras, serta mampu bersinar di panggung terbesar. Piala Dunia 2026 mungkin menjadi ajang pembuktian bahwa bakat dari negara kecil seperti Norwegia pun bisa bersaing dengan yang terbaik. Pertanyaan selanjutnya: bisakah Nusa benar-benar menaklukkan idolanya dan membawa Norwegia melangkah lebih jauh?



