IHSG Terjun Bebas ke 5.638 di Penutupan Semester I, Seluruh Sektor Loyo
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 3% ke level 5.638 pada perdagangan terakhir semester I-2026, ditutup dengan aksi jual massal di hampir semua sektor.
- Tekanan berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, sementara sentimen global seperti data lowongan kerja AS dan sikap hawkish The Fed masih membayangi.
- Pemerintah dan DPR menggelar rapat koordinasi untuk merumuskan kebijakan fiskal dan moneter guna mengantisipasi dampak volatilitas pasar terhadap ekonomi domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan pukulan telak pada perdagangan terakhir semester I-2026, Selasa (30/6), setelah ambles lebih dari 3% ke level psikologis 5.638. Aksi jual besar-besaran terjadi di hampir seluruh sektor, menjadikan hari itu sebagai salah satu sesi terburuk dalam enam bulan terakhir.
Sejak pembukaan, IHSG sudah menunjukkan kelemahan dengan turun 0,33% ke 5.801,45. Namun tekanan jual semakin deras dalam hitungan menit, mendorong indeks ke titik terendah sesi di 5.638. Nilai transaksi tercatat Rp4,64 triliun dengan volume 6,86 miliar saham dalam 475 ribu transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 67 saham yang menguat, sementara 555 saham melemah dan 97 saham stagnan.
Koreksi ini tidak hanya menyasar saham lapis kedua, tetapi juga saham-saham unggulan. Emiten perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI tercatat sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar dan ikut tertekan. Saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu juga kompak melemah, menambah panjang daftar kerugian investor. Seluruh sektor industri tanpa kecuali berada di zona merah, menandakan aksi jual bersifat menyeluruh.
Pelaku pasar kini menanti langkah pemerintah dan otoritas moneter. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa pemerintah dan DPR telah menggelar rapat koordinasi bidang ekonomi untuk memperkuat kebijakan fiskal dan moneter. Pertemuan itu difokuskan pada upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan merumuskan mitigasi terhadap tantangan global yang kian kompleks.
Dari sisi eksternal, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran sempat memberikan harapan. Pelemahan indeks dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS diharapkan menjadi katalis positif bagi rupiah dan IHSG. Namun, pasar masih waspada terhadap rilis data lowongan pekerjaan AS (JOLTs) yang bisa mempengaruhi sikap The Fed. Jika data lebih kuat dari perkiraan, The Fed dikhawatirkan kembali hawkish, yang berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar emerging market termasuk Indonesia.
Menariknya, bursa Asia-Pasifik mayoritas dibuka menguat pada hari yang sama, mengikuti reli Wall Street. Indeks S&P 500 naik 1,18%, Nasdaq melesat 2,07%, dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,59% ke level di atas 52.000 untuk pertama kalinya. Namun, optimisme itu tidak menular ke IHSG, yang justru terpuruk di tengah aksi jual domestik.
Pertanyaannya kini: akankah semester II-2026 membawa angin segar bagi bursa saham Indonesia? Dengan tekanan global yang masih membayangi dan kebijakan domestik yang tengah dirumuskan, investor perlu mencermati langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar. Jika data JOLTs AS keluar lebih lemah, bukan tidak mungkin IHSG berbalik arah. Namun jika sebaliknya, koreksi lebih dalam masih mengintai.



