Rupiah Terperosok ke Rp17.875, Tersandera Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,22% ke Rp17.875 per dolar AS, memutus tren penguatan tiga hari beruntun.
- Pelaku pasar mencermati rilis data tenaga kerja AS pekan ini yang bisa memperkuat sikap hawkish The Fed.
- Pemerintah memastikan defisit APBN masih terkendali di bawah 3%, namun tekanan eksternal tetap membayangi stabilitas rupiah.

Nilai tukar rupiah harus mengakui superioritas dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (30/6/2026), ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.875 per dolar AS. Koreksi ini memutus tren positif yang sebelumnya berhasil dibangun selama tiga hari beruntun.
Sejak pembukaan, rupiah sudah berada di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,08% di Rp17.850/US$, lalu tekanan makin dalam seiring berjalannya waktu. Sepanjang sesi, rupiah bergerak di rentang Rp17.850 hingga Rp17.908 per dolar AS, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.
Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,15% ke level 101,257 pada pukul 15.00 WIB. Pasar global tengah bersiap menyambut rilis data tenaga kerja AS untuk periode Juni yang dijadwalkan pada Kamis pekan ini. Dalam tiga bulan terakhir, penciptaan lapangan kerja AS konsisten melampaui ekspektasi, memicu spekulasi bahwa The Federal Reserve mungkin mempertahankan sikap hawkish lebih lama.
Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli mencapai 31,50%, sementara peluang suku bunga tetap di level saat ini sebesar 68,50%. Angka ini mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS, yang secara langsung mempengaruhi pergerakan mata uang emerging market seperti rupiah.
Dari dalam negeri, pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia, dan Dewan Ekonomi Nasional telah menggelar rapat koordinasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memitigasi dampak ketidakpastian global. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa kondisi fiskal masih sangat terjaga. Defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh di bawah batas 3% yang diamanatkan undang-undang. "Kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik. Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7% dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3%," ujar Juda.
Stabilitas fiskal menjadi salah satu pilar kepercayaan investor di tengah tekanan global terhadap nilai tukar. Namun, sentimen eksternal tetap menjadi faktor dominan yang menggerakkan rupiah. Data tenaga kerja AS yang solid dapat memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih lanjut, sementara jika data mengecewakan, ada peluang rupiah kembali menguat.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data tenaga kerja AS dan hasil rapat The Fed akhir Juli. Apakah rupiah mampu bertahan di bawah level Rp18.000, atau justru tertekan lebih dalam? Jawabannya tergantung pada bagaimana data ekonomi AS dan respons kebijakan moneter global berkembang dalam pekan-pekan mendatang.



