Swiss Incar Konsistensi, Algeria Berburu Sejarah di Babak 16 Besar Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Swiss melaju ke babak 16 besar untuk keenam kalinya secara beruntun, namun belum pernah lolos ke perempat final sejak 1954.
- Algeria, yang kembali ke Piala Dunia setelah 2014, berpeluang meraih kemenangan perdana di fase gugur.
- Pemenang laga ini akan menghadapi Kolombia atau Ghana di babak 16 besar.

Laga antara Swiss dan Algeria di BC Place, Vancouver, Kamis (30/6), bukan sekadar pertandingan babak 32 besar. Bagi Swiss, ini adalah ujian konsistensi yang sudah menjadi tradisi: lolos ke fase gugur namun gagal melangkah lebih jauh. Sementara bagi Algeria, ini adalah panggung sejarah untuk meraih kemenangan pertama di babak knockout Piala Dunia.
Swiss telah menjadi langganan babak 16 besar dalam enam edisi Piala Dunia terakhir. Namun, catatan itu diiringi kegagalan berulang: tersingkir di fase yang sama pada 2006, 2014, 2018, dan 2022. Satu-satunya pengecualian terjadi pada 2010, ketika mereka gagal lolos dari fase grup. Kini, dengan modal performa impresif di Euro 2024—hanya kalah adu penalti dari Inggris di semifinal—Swiss percaya diri mampu mematahkan kutukan tersebut.
Pelatih Murat Yakin memiliki skuad yang seimbang antara pemain berpengalaman dan talenta muda. Manuel Akanji, bek tangguh Manchester City, menjadi jangkar pertahanan, sementara Granit Xhaka mengatur ritme lini tengah. Sorotan juga tertuju pada Johan Manzambi, pemain muda yang mencetak tiga gol dan satu assist dalam tiga penampilan terakhirnya, meski hanya sekali menjadi starter. Kiper Gregor Kobel juga tampil gemilang saat Swiss mengalahkan tuan rumah Kanada 2-1 untuk memuncaki Grup B.
Kemenangan atas Kanada memberi Swiss waktu istirahat tujuh hari penuh. Yakin memanfaatkannya untuk memulihkan kondisi tim di pusat latihan San Diego. “Kami punya waktu untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental,” ujar Yakin. Swiss, yang terakhir kali menembus perempat final pada 1954, bertekad tampil maksimal.
Di sisi lain, perjalanan Algeria jauh lebih dramatis. Kembali ke Piala Dunia setelah 12 tahun, mereka lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik setelah bermain imbang 3-3 melawan Austria. Bagi Algeria, ini adalah kesempatan emas untuk mencatatkan kemenangan perdana di fase gugur. Kapten Riyad Mahrez, yang kini berusia 35 tahun, masih menjadi motor serangan dengan dua gol dan satu assist. Ini bisa menjadi Piala Dunia terakhirnya.
Keunggulan lain bagi Algeria adalah kehadiran pelatih Vladimir Petkovic, yang mengenal betul karakteristik Swiss. Petkovic menukangi Swiss dari 2014 hingga 2021, termasuk saat mereka mencapai perempat final Euro 2020. Pengetahuannya tentang kelemahan Swiss bisa menjadi senjata rahasia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menyajikan tontonan menarik: dua tim dengan gaya bermain kontras. Swiss mengandalkan organisasi permainan yang rapi dan disiplin, sementara Algeria lebih mengandalkan kreativitas individu, terutama dari Mahrez. Siapa pun pemenangnya, mereka akan tetap di Vancouver untuk menghadapi Kolombia atau Ghana di babak 16 besar. Pertanyaannya, akankah Swiss akhirnya memutus rantai kegagalan, atau Algeria yang akan menuliskan sejarah baru?



