Investor Asing Masih Kabur dari Pasar RI: Inflasi Global dan Isu MSCI Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Arus modal asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia masih tinggi meskipun tekanan harga minyak global mulai mereda.
- Direktur RHB Sekuritas Indonesia menilai kepercayaan investor asing rendah akibat ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi global.
- Isu perubahan bobot MSCI dan kebijakan moneter negara maju menjadi sentimen yang membayangi prospek pasar keuangan RI ke depan.

Pasar keuangan Indonesia masih belum pulih dari tekanan arus modal asing yang keluar, meskipun harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Direktur RHB Sekuritas Indonesia, Michael W. Setjoadi, mengungkapkan bahwa investor global masih enggan masuk ke pasar domestik karena ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini tercermin dari masih tingginya net foreign outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar ekuitas.
Menurut Michael, meskipun tekanan harga minyak mentah mulai berkurang, kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia masih rendah. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dan kebijakan moneter agresif bank sentral negara maju, terutama Federal Reserve, membuat investor cenderung memilih aset safe haven. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah dan kekhawatiran terhadap defisit transaksi berjalan menjadi beban tambahan.
โInvestor asing masih wait and see. Mereka khawatir dengan arah kebijakan moneter global dan dampaknya terhadap emerging market, termasuk Indonesia,โ ujar Michael dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Senin (29/6/2026). Ia menambahkan bahwa isu terkait perubahan bobot indeks MSCI juga menjadi perhatian pelaku pasar, karena dapat mempengaruhi aliran dana asing ke saham-saham Indonesia.
Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini, arus modal asing keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai angka yang signifikan, sementara di pasar obligasi, tekanan jual asing juga masih berlanjut. Kondisi ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kesulitan untuk bangkit, meskipun beberapa saham sektor komoditas sempat mencatatkan penguatan.
Bagi investor domestik, situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra. Michael menyarankan untuk fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan tahan terhadap gejolak eksternal, seperti sektor konsumer dan infrastruktur. Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas makroekonomi dan mempercepat reformasi struktural untuk meningkatkan daya tarik investasi.
Ke depan, pergerakan pasar akan sangat tergantung pada data inflasi AS dan keputusan suku bunga The Fed, serta perkembangan geopolitik global. Jika tekanan inflasi global mereda dan The Fed memberikan sinyal dovish, arus modal asing berpotensi kembali masuk ke Indonesia. Namun, jika ketidakpastian masih berlanjut, bukan tidak mungkin tekanan outflow akan semakin dalam.



