Yen Terjun ke Titik Terendah 40 Tahun, Intervensi Jepang Makin Terbayang
Baca dalam 60 detik
- Yen menyentuh level 162,50 per dolar AS, terlemah sejak 1986, dipicu spekulasi kenaikan suku bunga Fed.
- Pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan intervensi, namun analis meragukan efektivitas langkah serupa sebelumnya.
- Data tenaga kerja AS pekan ini menjadi kunci arah kebijakan moneter global, berdampak pada nilai tukar rupiah.

Yen Jepang ambrol ke titik terendah dalam 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (30/6), menembus level 162,50 dan memicu spekulasi bahwa Tokyo akan segera turun tangan secara langsung. Pelemahan ini tidak hanya menekan mata uang Negeri Sakura, tetapi juga membayangi euro dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali mengingatkan bahwa otoritas siap merespons secara tepat kapan saja, namun pernyataannya dinilai lebih lunak dibandingkan retorika yang biasa mendahului aksi pembelian yen. "Dolar adalah cerita utama saat ini, dan pasangan dolar-yen menjadi fokus kunci," ujar Lee Hardman, analis senior MUFG. Menurutnya, dolar terus didorong oleh ekspektasi pasar bahwa Fed akan menaikkan suku bunga setelah data inflasi yang masih tinggi dan proyeksi terbaru yang menunjukkan sembilan dari 19 pejabat Fed memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay, menilai bahwa komentar Katayama menghindari eskalasi verbal yang biasa terjadi sebelum intervensi. "Kami mencatat bahwa laporan non-farm payrolls pada Kamis dan libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumatโsaat likuiditas menipis drastisโbisa menjadi peluang menarik untuk menjebak posisi short spekulatif," tambahnya. Volume perdagangan valas diperkirakan menipis karena sebagian besar pasar AS tutup pada Jumat.
Laporan ketenagakerjaan bulan Juni menjadi acuan utama pekan ini. Tiga bulan berturut-turut data menunjukkan penambahan lapangan kerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan, memperkuat pandangan hawkish terhadap kebijakan Fed. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan 110.000 pekerjaan baru tercipta dengan tingkat pengangguran tetap di 4,3 persen.
Pelemahan yen yang berkepanjangan menjadi cermin bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selisih suku bunga yang lebar antara negara maju dan emerging market kerap memicu capital outflow dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Bank Indonesia pun terus mewaspadai pergerakan dolar yang agresif, terutama jika Fed benar-benar menaikkan suku bunga lagi. "Intervensi Jepang yang gagal membalikkan tren mengingatkan bahwa aksi serupa oleh bank sentral lain mungkin hanya bersifat sementara jika fundamental ekonomi tidak berubah," kata seorang analis pasar uang di Jakarta.
Di kawasan Eropa, euro tertekan 0,12 persen ke US$1,1407, mendekati level terendah setahun. Mata uang tunggal ini juga mencerna data inflasi yang lebih rendah dari Prancis, Italia, dan negara bagian Jerman. ECB telah menaikkan suku bunga bulan ini, dan pasar memperkirakan kenaikan lagi hingga akhir tahun, meskipun risiko perlambatan ekonomi tetap ada. Sementara sterling melemah 0,15 persen ke US$1,3236.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Jepang benar-benar turun tangan lagi? Hardman memperkirakan intervensi mungkin terjadi, namun efektivitasnya diragukan karena langkah April-Mei tidak mampu membalikkan tren. "Mungkin itu membuat mereka lebih enggan," katanya. Berbeda dengan April, pelemahan yen kali ini lebih terfokus pada dolar, sementara terhadap euro yen masih di bawah rekor tertinggi. Dengan data tenaga kerja AS yang akan dirilis, pasar bersiap menghadapi volatilitas tinggiโdan jika angka payrolls kembali kuat, tekanan pada yen bisa semakin berat, menguji kesabaran otoritas Tokyo.



