KPK Buru Mobil Mewah Rp1 Miliar dalam Kasus Suap Bupati Kuansing
Baca dalam 60 detik
- KPK masih mencari Toyota Land Cruiser yang diduga disembunyikan Bupati Kuansing Suhardiman Amby sebagai bagian dari suap Sekda Zulkarnaen.
- Nilai suap mencapai lebih dari Rp1 miliar, terungkap dalam OTT yang menangkap 10 orang, termasuk pejabat dan swasta.
- KPK memberi ultimatum agar bupati dan sekda menyerahkan diri untuk memperlancar proses hukum yang tengah berjalan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih memburu satu unit Toyota Land Cruiser yang diduga kuat menjadi bagian dari suap yang melibatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Zulkarnaen, kepada Bupati setempat, Suhardiman Amby. Mobil mewah tersebut diduga sengaja disembunyikan oleh bupati setelah operasi tangkap tangan (OTT) digelar pada akhir pekan lalu.
Menurut sumber internal KPK yang dihubungi pada Selasa (30/6), kendaraan bernilai lebih dari Rp1 miliar itu merupakan pemberian dari sekda kepada bupati. "Bupati menyembunyikan barang bukti mobil LC," ujar sumber tersebut. Nilai tersebut menjadikan kasus ini salah satu dugaan suap dengan nilai signifikan di daerah.
Dalam OTT yang berlangsung di dua lokasiโKabupaten Kuansing dan Jakartaโtim KPK mengamankan total sepuluh orang. Sembilan orang ditangkap di Kuansing, sementara satu orang lainnya diamankan di ibu kota. Setelah pemeriksaan awal, lima orang dibawa ke Gedung Merah Putih KPK untuk proses lebih lanjut. Mereka terdiri dari tiga pihak swasta, satu pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Kuansing, dan satu anggota keluarga penyelenggara negara di daerah tersebut.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam pernyataan resminya di Jakarta, mengimbau agar Bupati Suhardiman dan Sekda Zulkarnaen segera menyerahkan diri. "Keterangan dari bupati dan sekda dibutuhkan dalam proses hukum yang sedang berjalan di KPK saat ini," kata Budi. Imbauan ini sekaligus menjadi ultimatum bagi kedua pejabat untuk kooperatif, mengingat status mereka yang belum ditahan namun sudah menjadi tersangka.
Kasus ini diduga berkaitan dengan suap untuk memperoleh atau mempertahankan jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing. KPK belum merinci posisi atau proyek spesifik yang menjadi objek suap, namun modus pemberian mobil mewah dari sekda ke bupati mengindikasikan adanya transaksi politik yang melibatkan anggaran daerah. Praktik semacam ini kerap terjadi di daerah-daerah dengan pengawasan lemah, terutama menjelang pergantian pejabat atau proses lelang proyek.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa korupsi di tingkat daerah masih mengakar, terutama yang melibatkan kepala daerah dan pejabat tinggi. KPK sendiri terus mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam mengawasi penggunaan anggaran. Ke depan, lembaga antirasuah itu diperkirakan akan mengembangkan penyidikan ke arah pemberi suap lainnya, termasuk pihak swasta yang turut diamankan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah mobil mewah itu hanya puncak gunung es dari praktik suap yang lebih besar di Kuansing?



