Menginjak Kepala Kerbau: Simbol Pembersihan Hawa Nafsu dalam Tradisi Lampung
Baca dalam 60 detik
- Budayawan Lampung mengartikan prosesi menginjak kepala kerbau sebagai simbol pembersihan sifat buruk dan penghormatan dalam upacara adat Cakak Pepadun.
- Ritual Mesol Kibau ini telah berlangsung ratusan tahun dan menggunakan kerbau sebagai simbol kekuatan dan kebesaran masyarakat Lampung.
- Kontroversi muncul saat Presiden Jokowi menjalani prosesi tersebut, namun budayawan menegaskan tradisi ini sudah lama ada dan perlu dipahami dalam konteks adat setempat.

Prosesi menginjak kepala kerbau yang dilakukan Presiden Joko Widodo saat menerima gelar adat Lampung beberapa waktu lalu bukanlah sekadar atraksi, melainkan ritual sakral yang telah mengakar selama berabad-abad dalam budaya setempat. Budayawan Lampung, Admi Syarif, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari upacara Begawi Cakak Pepadun, yaitu pengangkatan seseorang ke kedudukan adat tertinggi sebagai penyimbang atau pemimpin adat.
Dalam tradisi masyarakat Lampung, kerbau memiliki tempat istimewa. Hewan ini kerap menjadi ukuran dalam berbagai perhitungan adat dan penyelenggaraan pesta besar. Admi, yang juga Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), mengungkapkan bahwa pemilihan kerbau bukanlah tanpa alasan. "Kerbau dianggap sebagai binatang yang kuat dan besar. Kita ingin menunjukkan bahwa orang Lampung itu kuat dan besar," ujarnya di Bandar Lampung, Selasa (30/6).
Ritual yang dalam bahasa Lampung disebut Mesol Kibau atau Kiyak Kulu Kibau ini memiliki makna mendalam. Menginjak kepala kerbau dimaknai sebagai upaya membuang hawa nafsu dan sifat kebinatangan dari diri manusia. "Simbolik. Ini bukan kepercayaan atau agama, tapi bisa dimaknai sebagai simbol untuk menghilangkan roh kebinatangan," kata Admi. Prosesi ini biasanya dilakukan pada puncak acara Begawi, menandakan bahwa seluruh rangkaian adat telah sampai pada tahap akhir.
Admi juga menyoroti keragaman tata cara adat di Lampung. Menurutnya, tidak semua kebuwayan (marga) mengenal prosesi yang sama. Ia sendiri berasal dari Megou Pak Tulangbawang dan mengakui bahwa istilah injak kulu kibau sudah dikenal sejak zaman buyutnya. Namun, ia mengakui bahwa justifikasi khusus mengenai penggunaan kepala kerbau belum ditemukan secara tertulis. "Saya tidak menemukan justifikasi khusus, tapi semua berkaitan dengan hal-hal baik," tambahnya.
Kontroversi muncul ketika Presiden Jokowi menjalani prosesi ini saat menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6). Dalam momen tersebut, Jokowi yang mengenakan pakaian adat Lampung duduk di kursi dan menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah. Admi mempertanyakan mengapa ritual yang sudah lama ini tiba-tiba menjadi perdebatan. "Ini sudah cukup lama. Yang jadi masalah kenapa ketika ini dilakukan oleh Jokowi menjadi ramai?" ujarnya.
Menurut Admi, perbedaan interpretasi antarmarga mungkin menjadi penyebab kegaduhan. "Lampung banyak marganya, banyak sukunya, banyak tata-titinya. Ini harus diselesaikan oleh marganya masing-masing," katanya. Ia juga mengingatkan bahwa belum tentu seluruh proses tata titi muakhi (aturan adat) telah dijalankan dengan benar dalam acara tersebut. Pertanyaan ini membuka ruang bagi para tetua adat untuk mengklarifikasi dan mendidik publik tentang kekayaan tradisi Lampung yang sesungguhnya.



