OJK Buka Data: 61 Perusahaan Antre IPO Senilai Rp52,38 Triliun di Tengah Tekanan Pasar
Baca dalam 60 detik
- OJK mencatat 61 perusahaan masih dalam pipeline IPO dengan total nilai Rp52,38 triliun, menunjukkan minat pendanaan korporasi tetap tinggi.
- Meski fundraising tahun ini mencapai Rp81,09 triliun, IHSG anjlok 31,81% dan asing net sell Rp71,68 triliun, mengindikasikan krisis kepercayaan.
- Regulator menekankan kepercayaan pasar sebagai fondasi utama, bukan sekadar fundamental ekonomi, untuk menjaga stabilitas ekosistem modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan masih ada 61 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan total nilai rencana penghimpunan dana mencapai Rp52,38 triliun. Angka ini menjadi sinyal bahwa antusiasme korporasi mencari pendanaan alternatif di pasar modal belum surut meskipun pasar saham nasional tengah tertekan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan minat penggalangan dana korporasi dan pemerintah tercatat masih tinggi sepanjang tahun ini. Hingga pertengahan 2026, realisasi fundraising di pasar modal telah mencapai Rp81,09 triliun, sebuah capaian yang dinilai cukup baik di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Namun, di balik optimisme itu, Hasan mengingatkan bahwa kinerja pasar modal bisa dengan cepat teruji ketika kepercayaan investor mulai goyah. Data perdagangan per 26 Juni 2026 menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah ambles hingga 31,81% secara year-to-date. Pada periode yang sama, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp71,68 triliun, menandakan arus modal keluar yang signifikan.
Menurut Hasan, dinamika tersebut mengonfirmasi bahwa kepercayaan merupakan faktor utama yang menentukan arah pergerakan pasar modal di kawasan. Kondisi fundamental ekonomi yang baik saja tidak selalu cukup untuk meredam gejolak, terutama ketika sentimen global dan domestik tidak bersahabat. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada membangun pasar modal yang besar dan aktif, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan sebagai fondasi utama ekosistem.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa momentum IPO yang melimpah belum tentu mencerminkan kesehatan pasar secara keseluruhan. Di satu sisi, antrean IPO senilai Rp52,38 triliun menunjukkan optimisme korporasi terhadap prospek jangka panjang. Di sisi lain, koreksi IHSG yang dalam dan aksi jual asing mengindikasikan adanya tekanan likuiditas dan risiko sentimen yang perlu diwaspadai.
"Kepercayaan bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya melalui satu kebijakan ataupun hanya dapat dilakukan oleh satu institusi semata. Kepercayaan merupakan hasil dari konsistensi seluruh ekosistem pasar modal dalam menjaga integritasnya masing-masing," ujar Hasan Fawzi di gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Pernyataan ini menekankan perlunya kolaborasi antara regulator, bursa, emiten, dan pelaku pasar untuk menjaga kredibilitas. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah deretan IPO yang mengantre mampu menyerap minat investor di tengah kondisi pasar yang bearish, atau justru akan menambah tekanan suplai saham baru. Jawabannya akan sangat bergantung pada sejauh mana ekosistem pasar modal Indonesia mampu memulihkan kepercayaan yang sempat tergerus.



