Gelombang PHK Terbesar dalam Sejarah Game: Microsoft Tutup Studio Xbox
Baca dalam 60 detik
- Microsoft dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja massal di divisi Xbox, yang disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah industri game.
- Informasi dari sumber internal menyebutkan bahwa rencana restrukturisasi akan diumumkan pada awal Juli 2026, setelah penutupan kuartal fiskal.
- Langkah ini diprediksi akan merusak reputasi Xbox dalam jangka panjang, terutama di kalangan pengembang dan komunitas game.

Microsoft bersiap menghadapi badai reputasi setelah kabar mengejutkan tentang rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di lini studio Xbox bocor ke publik. George Broussard, salah satu pendiri 3D Realms yang dikenal lewat Duke Nukem, mengungkapkan bahwa gelombang PHK ini diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam sejarah industri gim.
Dalam unggahan di platform X pada 30 Juni 2026, Broussard mengaku mendapatkan informasi dari sumber internal mengenai daftar studio Xbox yang akan ditutup. Meski ia enggan memublikasikan daftar tersebut, ia menegaskan bahwa jika informasi itu benar, maka peristiwa ini akan menjadi pemutusan hubungan kerja tunggal terbesar yang pernah terjadi di industri gim. “Xbox akan menjadi sangat tidak populer untuk waktu yang sangat lama,” tulisnya, merujuk pada dampak jangka panjang dari langkah restrukturisasi ini.
Kabar ini muncul di tengah tekanan industri gim global yang sedang mengalami kontraksi pasca-pandemi. Banyak perusahaan besar, termasuk Microsoft, telah melakukan efisiensi biaya dengan memangkas tenaga kerja. Namun, skala yang disebutkan oleh Broussard—menyentuh penutupan studio secara massal—menunjukkan bahwa Microsoft mungkin sedang melakukan perubahan strategi besar-besaran di bawah divisi Xbox.
Bagi Indonesia, langkah Microsoft ini patut dicermati. Industri gim Tanah Air yang mulai tumbuh, dengan banyaknya studio independen dan pengembang lokal, bisa terkena dampak tidak langsung. Jika Microsoft mengurangi investasi di studio-studio global, peluang kolaborasi atau pendanaan untuk pengembang Indonesia mungkin ikut menyusut. Selain itu, para gamer Indonesia yang setia pada ekosistem Xbox—baik melalui konsol maupun layanan Game Pass—akan merasakan dampak dari berkurangnya konten eksklusif akibat penutupan studio.
Para analis memperkirakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya Microsoft untuk memfokuskan portofolio gimnya pada judul-judul yang lebih menguntungkan, meninggalkan proyek-proyek yang dianggap tidak strategis. Namun, cara yang dilakukan—dengan PHK massal dan penutupan studio—berisiko merusak hubungan dengan komunitas pengembang dan konsumen. “Reputasi adalah aset yang paling sulit dipulihkan,” ujar seorang pengamat industri yang enggan disebut namanya.
Ke depan, publik akan menanti pengumuman resmi dari Microsoft. Apakah perusahaan akan mengonfirmasi kabar ini dan bagaimana mereka mengelola transisi bagi para karyawan yang terkena dampak? Yang jelas, langkah ini akan menjadi ujian bagi komitmen Microsoft terhadap ekosistem Xbox dan para pengembangnya.



