Zandra Rhodes Hibahkan Lima Koleksi Ikonik ke Museum yang Ia Dirikan Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Dame Zandra Rhodes menyumbangkan lima busana arsip dari era 1974-1992 ke Fashion and Textile Museum di London, museum yang ia dirikan pada 2003.
- Koleksi tersebut meliputi gaun chiffon Field of Lilies dan Reverse Lilies, serta gaun sutra merah dengan motif Chinese Squares yang menjadi ciri khasnya.
- Langkah ini memperkuat warisan desain Rhodes sekaligus memastikan akses publik terhadap mahakarya mode Inggris untuk generasi mendatang.

Dame Zandra Rhodes, desainer legendaris asal Inggris, memutuskan untuk menghibahkan lima karya arsipnya ke Fashion and Textile Museum di London—museum yang ia dirikan sendiri pada 2003. Keputusan ini diumumkan dalam sebuah acara yang merayakan pemasangan plakat cermin karya sahabatnya, Andrew Logan, yang menggambarkan mendiang pasangan hidupnya, Salah Hassanein.
Lima busana yang disumbangkan mencakup rentang tahun 1974 hingga 1992, termasuk dua gaun chiffon bertajuk Field of Lilies dan Reverse Lilies. Satu lagi mahakarya yang masuk koleksi permanen adalah gaun sutra merah berlengan pagoda yang dihiasi motif Chinese Squares, salah satu desain paling dikenal dari Rhodes. Museum menyebut sumbangan ini sebagai cara bagi audiens masa depan untuk “berinteraksi langsung dengan contoh-contoh penting” dari praktik desain Rhodes.
Dalam sambutannya, Rhodes mengungkapkan kebanggaannya bekerja sama dengan arsitek Meksiko Ricardo Legorreta untuk mewujudkan bangunan museum berwarna merah muda dan oranye yang mencolok. “Lebih dari 20 tahun kemudian, tempat ini masih sangat dekat di hati saya,” ujarnya. Dennis Nothdruft, kepala pameran museum, menambahkan bahwa karya Rhodes “menjadi sumber inspirasi konstan bagi tim dan pengunjung” dan menantikan kerja sama jangka panjang dengan Zandra Rhodes Foundation.
Sepanjang kariernya yang gemilang, Rhodes telah melayani klien selebriti seperti mendiang Putri Diana, Elizabeth Taylor, Anjelica Huston, dan Freddie Mercury. Dalam buku Iconic: My Life in Fashion in 50 Objects, ia mengungkapkan pernah diminta mendesain gaun pengantin Diana. Ia menulis bahwa meskipun desainnya feminin dan romantis, karyanya tetap berani dan unik. “Saya memiliki rambut merah muda terang dan sulit dianggap sebagai desainer yang biasanya bekerja dengan putri,” tulisnya. Rhodes juga berkomentar tentang Diana: “'Bahagia' bukan kata yang akan saya hubungkan dengannya, tapi dia sangat hangat... Diana mendapat perlakuan yang tidak adil.”
Bagi Indonesia, langkah Rhodes ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan warisan mode sebagai bagian dari identitas budaya. Di tengah maraknya fast fashion, museum seperti Fashion and Textile Museum menawarkan ruang apresiasi terhadap keahlian dan cerita di balik setiap jahitan. Koleksi Rhodes yang kaya akan motif dan warna juga bisa menjadi inspirasi bagi desainer Tanah Air untuk terus mengeksplorasi kekayaan wastra Nusantara tanpa kehilangan sentuhan kontemporer.
Ke depan, publik dapat menantikan pameran khusus yang mungkin menampilkan sumbangan ini, sekaligus memperkuat posisi museum sebagai pusat edukasi mode. Pertanyaan yang mengemuka: apakah langkah serupa akan diikuti oleh desainer Indonesia untuk mewariskan karya mereka ke museum dalam negeri?



