IHSG Merah Berbulan-bulan, OJK Akui Ada yang Salah dan Siapkan Pembenahan
Baca dalam 60 detik
- OJK mengakui pelemahan IHSG yang berkepanjangan mengindikasikan masalah struktural di pasar modal Indonesia.
- Regulator berjanji melakukan perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan kepercayaan investor, terutama pemula yang mendominasi.
- Meski jumlah emiten dan investor meningkat signifikan, IHSG masih terpuruk 35,49% year to date, menjadi sinyal peringatan bagi pasar.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tak kunjung berakhir bukanlah sekadar fluktuasi biasa. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa ada kejanggalan di balik tekanan jual yang terus membayangi bursa saham Indonesia.
"Kalau merah terus-terusan, there must be something wrong. Itu yang harus kami jawab," ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). Pernyataan ini menjadi pengakuan eksplisit bahwa kondisi pasar tidak sehat dan memerlukan intervensi serius.
Sepanjang Juni 2026, IHSG tercatat ambles 7,9%, sementara secara year to date indeks anjlok hingga 35,49%. Pada perdagangan Selasa, IHSG ditutup di level 5.643,19, merosot 177,6 poin atau 3,05% dari hari sebelumnya. Angka ini kontras dengan bursa regional lain yang mulai menunjukkan pemulihan.
Menurut Hasan, industri pasar modal saat ini memasuki era baru di mana kepercayaan menjadi fondasi paling berharga. OJK bersama regulator pasar modal lainnya berkomitmen melakukan perbaikan secara terukur dan berkelanjutan. "Kami bersama Pak Jeffrey (Direktur Utama BEI) dan seluruh pemangku kepentingan akan mendorong perbaikan menyeluruh," tegasnya.
Langkah pembenahan ini dinilai krusial mengingat perubahan cara dunia memandang risiko membawa implikasi langsung bagi Indonesia. Sebagai negara yang tengah bertransformasi, Indonesia membutuhkan pembiayaan dalam skala besar untuk mendukung agenda strategis nasional. "Pasar modal harus dikembalikan ke peran sentralnya sebagai mesin penggerak pembentukan modal jangka panjang dan pusat investasi," jelas Hasan.
Di sisi lain, data fundamental menunjukkan kemajuan yang patut dicatat. Jumlah perusahaan tercatat di BEI kini mencapai 957 emiten, lebih dari dua kali lipat dibanding 440 emiten pada 2011. Partisipasi masyarakat juga meningkat signifikan dengan total investor mencapai 28,81 juta, tumbuh 41,45% secara year to date. Namun, mayoritas investor adalah pemula berusia muda yang rentan terhadap informasi sesat. "Mereka butuh pemahaman mendalam dan informasi yang tervalidasi serta berimbang," pungkas Hasan.
Bagi investor Indonesia, pengakuan OJK ini menjadi sinyal bahwa regulator tidak tinggal diam. Namun, pertanyaan besarnya adalah seberapa efektif langkah perbaikan yang akan diambil untuk mengembalikan IHSG ke jalur hijau, terutama di tengah ketidakpastian global dan dominasi investor ritel yang masih minim literasi. Akankah OJK mampu membangun kembali kepercayaan yang sempat tergerus?



