GCR Naikkan Peringkat Globus Bank: Modal Kuat, Ekspansi Agresif
Baca dalam 60 detik
- Lembaga pemeringkat GCR menaikkan peringkat Globus Bank menjadi BBB+(NG) dan A2(NG) dengan prospek stabil, didorong suntikan modal dan laba ditahan.
- Rasio modal inti bank melonjak ke 25,2% setelah rights issue dan private placement senilai NGN102 miliar, menopang ekspansi aset yang tumbuh 63,8%.
- Meski pangsa pasar masih sekitar 1%, perbaikan kualitas aset dan likuiditas yang solid menjadi modal bank untuk bersaing di sektor perbankan Nigeria.

GCR Ratings (GCR) menaikkan peringkat penerbit jangka panjang dan jangka pendek Globus Bank Limited menjadi BBB+(NG) dan A2(NG) dari sebelumnya BBB(NG) dan A3(NG), dengan prospek stabil. Keputusan ini mencerminkan penguatan permodalan bank yang didukung oleh suntikan modal segar dan kemampuan mempertahankan laba.
Peningkatan peringkat tersebut menggarisbawahi perbaikan kecukupan modal Globus Bank setelah mengantongi dana segar sebesar NGN102 miliar melalui rights issue dan penempatan swasta. Rasio modal inti GCR pun terdongkrak menjadi 25,2% per 30 April 2026, naik dari 21,2% pada akhir Desember 2025. Dalam 12-18 bulan ke depan, rasio ini diperkirakan berada di kisaran 22,5%-25,0% seiring ekspansi portofolio pinjaman yang tetap diimbangi dengan perolehan laba yang kuat.
Globus Bank, yang tergolong bank menengah di Nigeria, tengah giat memperluas jangkauan ke berbagai wilayah strategis dan mengadopsi teknologi untuk melayani basis nasabah yang beragam. Total aset bank melonjak 63,8% menjadi NGN2,6 triliun (setara USD1,8 juta) per 31 Desember 2025, dan terus meningkat menjadi NGN3,3 triliun (USD2,4 juta) pada akhir April 2026. Pertumbuhan ini menandakan akselerasi pendanaan dan penyaluran kredit yang signifikan. Meski demikian, pangsa pasar Globus Bank masih terbatas, hanya sekitar 1% dari total sektor perbankan Nigeria, yang menjadi faktor penahan peringkat.
Dari sisi kualitas aset, GCR menilai posisi risiko Globus Bank tergolong kuat. Bank menerapkan underwriting dan pemantauan kredit yang ketat, sehingga sejak berdiri tidak pernah mencatatkan kredit macet (non-performing loan). Namun, rasio kerugian kredit meningkat menjadi 2,8% per April 2026, dari 0,7% pada akhir 2025, terutama akibat pencadangan konservatif di tengah tantangan makroekonomi. Angka ini masih sejalan dengan rata-rata industri. Konsentrasi risiko pihak lawan juga menurun drastis: porsi 20 debitur terbesar terhadap total pinjaman bruto turun dari 76,0% pada akhir 2025 menjadi 47,1% pada April 2026.
Pendanaan dan likuiditas Globus Bank menjadi faktor positif lainnya. Deposito nasabah tumbuh 70,3% menjadi NGN1,6 triliun (USD1,1 miliar) pada akhir 2025, dan mencapai NGN2,0 triliun (USD1,5 miliar) pada April 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh simpanan murah berbasis teknologi, perluasan jaringan cabang, serta hubungan dengan korporasi besar. Namun, biaya dana (cost of funds) naik menjadi 14,0% dari 13,0% pada periode yang sama. Konsentrasi deposito juga meningkat, dengan 20 depositor teratas menguasai 40,7% total simpanan pada April 2026, dibandingkan 33,3% pada Desember 2025. Meski begitu, rasio likuiditas bank tetap solid, konsisten di atas batas minimum regulasi sebesar 30%, dan aset likuid GCR mampu menutupi deposito nasabah serta pendanaan grosir secara memadai.
Prospek stabil yang diberikan GCR mencerminkan ekspektasi bahwa rasio modal inti akan bertahan di kisaran 22,5%-25,0% dalam 12-18 bulan mendatang, ditopang oleh kemampuan menghasilkan modal internal dan basis modal yang solid. GCR juga memperkirakan metrik kualitas aset dan profil likuiditas akan tetap terjaga. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Globus Bank mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini tanpa mengorbankan profil risikonya, terutama di tengah tekanan biaya dana dan konsentrasi deposito yang meningkat.



