Eks Penulis Dragon Age: AI Generatif adalah Wabah yang Merusak Industri Game
Baca dalam 60 detik
- David Gaider, penulis tiga seri Dragon Age, menyebut AI generatif sebagai 'wabah' yang menghambat regenerasi talenta pengembang game.
- Ia mengkritik penggunaan AI yang justru menggantikan tugas kreatif, bukan sekadar membantu pekerjaan repetitif, sehingga mengancam kualitas dan jiwa karya.
- Kritik ini relevan bagi Indonesia yang tengah gencar mengembangkan industri game nasional, karena adopsi AI tanpa kendali bisa mematikan proses pembelajaran junior.

David Gaider, penulis utama tiga seri pertama Dragon Age yang hengkang dari BioWare pada 2016, melontarkan kritik pedas terhadap penggunaan generative artificial intelligence (AI) di industri video game. Dalam wawancara dengan GamesRadar, ia tanpa ragu menyebut teknologi itu sebagai 'wabah' yang justru merusak ekosistem pengembangan game.
Menurut Gaider, argumen bahwa AI mempercepat penyelesaian tugas repetitif tidaklah sepenuhnya benar. Baginya, tugas-tugas membosankan itu justru menjadi lahan pembelajaran bagi pengembang junior untuk memahami seluk-beluk pembuatan game. "Bagaimana kita bisa melatih generasi pengembang berikutnya jika semua tugas tingkat pemula dihilangkan?" ujarnya. Ia menilai bahwa para pengambil keputusan sering salah kaprah menganggap AI sebagai tenaga kerja murah, padahal hasilnya justru sebaliknya.
Lebih jauh, Gaider menyoroti bahwa AI generatif 'bencana dalam hal iterasi' karena tidak mampu menyesuaikan detail kecil dan menghasilkan karya yang koheren. Menurutnya, AI hanya menciptakan konsep yang 'pasti tidak berjiwa dan penuh kesalahan', yang bahkan tidak bisa direproduksi oleh seniman. "Kita melihat semakin banyak kasus di mana AI ditempatkan untuk mengerjakan tugas penting, sementara pekerja hanya tinggal 'membersihkan' kekacauan yang dibuat AI," tambahnya.
Kritik Gaider ini menjadi pengingat bagi industri game global, termasuk Indonesia yang tengah mengembangkan ekosistem pengembangan gim. Di Tanah Air, sejumlah studio mulai mengadopsi AI untuk mempercepat produksi, namun tanpa pengawasan yang tepat, risiko yang sama mengintai. Jika adopsi AI tidak diimbangi dengan kebijakan yang melindungi proses pembelajaran dan kreativitas, regenerasi talenta bisa terhambat. Padahal, Indonesia memiliki banyak pengembang muda yang membutuhkan pengalaman langsung dari tugas-tugas dasar.
Pernyataan Gaider juga menggemakan kekhawatiran para kreator di berbagai bidang, bahwa AI generatif belum mampu menggantikan sentuhan manusia dalam menciptakan karya yang bermakna. "Selama para pengambil keputusan tidak memahami bahwa AI bukanlah tenaga kerja murah yang mereka harapkan, dan selama mereka terus menyabot tim dengan memaksakan penggunaan AI dengan ekspektasi yang tidak realistis, kita harus memperlakukannya sebagai wabah yang ganas," tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah industri game—khususnya di Indonesia—menemukan keseimbangan antara efisiensi AI dan kebutuhan menjaga kualitas serta regenerasi talenta? Ataukah kita akan menyaksikan gelombang PHK massal dan karya-karya tanpa jiwa akibat adopsi AI yang tak terkendali?



