BNI di Usia 80 Tahun: Transformasi Digital dan Danantara Jadi Kunci Kinerja Solid
Baca dalam 60 detik
- BNI mencatat laba bersih Rp9,05 triliun hingga Mei 2026, didorong transformasi digital dan penguatan manajemen risiko.
- Platform digital ritel wondr by BNI telah menjaring 12 juta nasabah, sementara BNIdirect tumbuh 25% secara tahunan.
- Kehadiran Danantara diharapkan mempercepat penciptaan nilai jangka panjang BUMN, termasuk BNI, melalui integrasi investasi.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih Rp9,05 triliun hingga akhir Mei 2026, menegaskan efektivitas transformasi yang dijalankan di tengah tekanan persaingan perbankan. Capaian ini tidak lepas dari strategi digitalisasi agresif dan penguatan tata kelola di bawah superholding BUMN Danantara.
Direktur Finance and Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa transformasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat ketahanan perusahaan dalam menghadapi perubahan. "Dengan fundamental yang semakin kuat, BNI dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi nasabah, masyarakat, dan perekonomian nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (30/6/2026).
Transformasi tersebut mencakup pengembangan kapabilitas digital, peningkatan produktivitas organisasi, optimalisasi jaringan layanan, serta penguatan manajemen risiko. Hasilnya, hingga akhir 2025, platform perbankan ritel wondr by BNI telah digunakan oleh lebih dari 12 juta nasabah, mendorong pertumbuhan tabungan ritel dan dana murah. Sementara itu, di segmen wholesale, BNIdirect mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% secara tahunan, memperkuat layanan cash management dan trade finance bagi korporasi.
Kinerja keuangan yang solid juga tercermin dari perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto turun menjadi 1,9%, sementara loan at risk (LaR) membaik ke level 8,5% pada 2025. Hingga Mei 2026, total aset BNI mencapai Rp1.365,36 triliun dengan dana pihak ketiga (DPK) Rp1.063,92 triliun. Ekuitas perseroan tercatat Rp160,99 triliun, menunjukkan permodalan yang kokoh.
Kehadiran Danantara, induk holding BUMN yang baru, menjadi faktor strategis dalam akselerasi transformasi BNI. Paolo menilai bahwa pengelolaan investasi yang terintegrasi dan peningkatan produktivitas di bawah Danantara akan memperkuat daya saing perusahaan. "Kami optimistis dapat terus memperkuat kinerja, memperluas kontribusi bagi pembangunan nasional, serta menciptakan manfaat berkelanjutan bagi pemegang saham, masyarakat, dan negara," pungkasnya.
Bagi investor dan pelaku pasar, konsistensi BNI dalam menjaga profitabilitas di tengah efisiensi digital menjadi sinyal positif. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana bank pelat merah ini mampu mempertahankan pertumbuhan kredit berkualitas tanpa mengorbankan rasio kecukupan modal. Dengan dukungan Danantara, akankah BNI mampu menembus laba di atas Rp20 triliun pada akhir 2026? Semua akan terjawab dalam laporan kinerja kuartal berikutnya.



