Josh Peck Buka Suara: Gaji Rp240 Juta per Episode Drake and Josh, Tapi Tak Ada Royalti
Baca dalam 60 detik
- Josh Peck mengungkap pendapatan rata-rata Rp240 juta per episode dari Drake and Josh, namun setelah dipotong agen, manajer, dan pajak, ia hanya membawa pulang setengahnya.
- Ia menegaskan tidak menerima royalti dari acara anak-anak Nickelodeon era 2000-an, sehingga usai syuting, pemasukan langsung terhenti.
- Pengalaman masa kecil yang tidak stabil secara finansial membuat Peck terus bekerja keras dan memiliki kecemasan berlebihan terhadap pengeluaran kecil.

Bintang remaja era 2000-an, Josh Peck, mengungkap kenyataan pahit di balik layar sitkom populer Drake and Josh. Dalam wawancara terbaru, ia mengakui bahwa meskipun acara tersebut sukses besar, pendapatan yang ia terima jauh dari kata melimpah, dan ia tidak mendapatkan royalti sama sekali.
Peck, yang kini berusia 39 tahun, memulai kariernya di The Amanda Show sebelum berperan sebagai Josh Nichols di Drake and Josh yang tayang dari 2004 hingga 2007. Dalam podcast Financial Tea with Mrs. Dow Jones, ia mengungkapkan bahwa gaji per episode di The Amanda Show hanya sekitar Rp48 juta (US$3.000). Angka itu naik drastis saat ia membintangi Drake and Josh, dengan rata-rata Rp240 juta (US$15.000) per episode. Namun, setelah dipotong komisi agen, manajer, dan pajak, ia hanya membawa pulang setengahnya, atau sekitar Rp7,2 miliar (US$450.000) dari total 60 episode.
Fakta bahwa ia tidak menerima royalti menjadi pukulan telak. โTidak ada royalti untuk acara anak-anak saat ituโฆ begitu episode terakhir selesai, selesai sudah,โ ujar Peck. Hal ini memaksanya untuk segera mencari pekerjaan setelah acara berakhir di usianya yang ke-19. Ia mengaku hanya memiliki sedikit waktu untuk bersantai sebelum harus kembali bekerja, karena pendapatan yang ada tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan ibunya lebih dari satu atau dua tahun ke depan.
Peck juga membuka latar belakang keluarganya yang penuh ketidakstabilan finansial. Dibesarkan oleh ibu tunggal, ia sering berpindah-pindah antara kelas menengah bawah dan kondisi bangkrut. โKadang kami punya tahun yang baik dan saya mendapat sepatu Jordan baru, di lain waktu saya harus menelepon nenek untuk membayar makan malam karena kami tidak punya uang,โ kenangnya. Pengalaman ini membentuk kebiasaan finansialnya yang sangat hati-hati, bahkan cenderung obsesif terhadap pengeluaran kecil. โSaya akan menghukum diri sendiri jika mendapat denda keterlambatan US$20,โ katanya.
Kisah Peck menjadi pengingat bahwa kesuksesan di layar kaca tidak selalu menjamin kekayaan jangka panjang, terutama di era sebelum streaming dan royalti digital. Bagi industri hiburan Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyak aktor cilik yang juga menghadapi ketidakpastian pendapatan setelah acara berakhir. Regulasi tentang royalti dan perlindungan artis anak masih menjadi perdebatan, dan pengalaman Peck bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku industri di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah model bisnis televisi tradisional yang tidak memberikan royalti kepada pemain masih adil di tengah maraknya platform digital yang justru menawarkan pendapatan pasif? Peck sendiri telah beralih ke proyek-proyek baru seperti How I Met Your Father, namun trauma finansial masa lalunya masih membekas. โJika Anda memiliki ketakutan mendalam untuk tidak pernah bangkrut lagi, Anda akan berlari secepat mungkin selama Anda bisa,โ tutupnya.



