dbrand Dihukum Valve: Kulit Portal untuk Steam Machine Ditarik Paksa
Baca dalam 60 detik
- Valve memerintahkan dbrand untuk menghentikan penjualan kulit Companion Cube bertema Portal karena pelanggaran hak cipta.
- Produk yang terjual 22 Juni lalu itu sempat menjadi best seller kedua dbrand, namun kini seluruh pembeli akan mendapat refund.
- Insiden ini menjadi pengingat keras bagi kreator aksesori di Indonesia untuk selalu mengurus izin lisensi sebelum merilis produk bermerek.

Valve, pengembang platform Steam, bergerak cepat menindak aksesori tak berlisensi yang menggunakan properti intelektualnya. Hanya beberapa jam setelah dbrand meluncurkan kulit konsol Steam Machine bertema Companion Cube dari game Portal, raksasa game asal Amerika itu memerintahkan penarikan total produk tersebut dari pasaran.
Kulit yang dijuluki "Poverty Cube" itu dirilis pada 22 Juni lalu dan langsung mencatatkan diri sebagai produk terlaris kedua sepanjang sejarah dbrand. Namun, euforia itu sirna ketika Valve mengirimkan somasi karena dbrand tidak memiliki izin resmi untuk menggunakan elemen waralaba Portal. Seluruh pembeli yang sudah memesan akan mendapatkan pengembalian dana penuh.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis tim dbrand, mereka mengaku telah menghabiskan lebih dari tujuh bulan dan ribuan jam kerja untuk proyek ini. "Kami menuangkan jiwa ke dalam proyek ini. Lebih dari seribu jam rekayasa dari tim desain industri kami. Empat puluh empat set alat cetak injeksi dikembangkan, satu untuk setiap sub-komponen kubus. Seluruh produk didesain ulang dari awal lebih dari sekali, hanya untuk mendapatkan cara dudukan yang pas di konsol," tulis mereka.
Lebih lanjut, dbrand mengungkapkan bahwa mereka bahkan menyewa kampus universitas untuk syuting video peluncuran. Ironisnya, setiap unit Poverty Cube seharga 99 dolar AS justru merugi bagi perusahaan. "Pada akhirnya, kami merugi untuk setiap Poverty Cube seharga $99 yang terjual, tapi itu tidak masalah. Ini telah berubah menjadi proyek gairah bagi seluruh organisasi," tambah pernyataan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para kreator aksesori, termasuk di Indonesia, bahwa penggunaan properti intelektual tanpa izin bisa berakibat fatal. Meskipun dbrand mengklaim proyek ini sebagai passion project, hukum hak cipta tetap berlaku. Di Indonesia, dengan maraknya produk modifikasi dan aksesori game, insiden serupa bisa saja terjadi jika produsen lokal tidak berhati-hati dalam menggunakan merek atau karakter populer tanpa lisensi.
Ke depannya, para penggemar Portal dan Steam Machine harus menunggu hingga dbrand atau pihak lain mendapatkan izin resmi dari Valve untuk menghadirkan produk serupa. Pertanyaan besarnya: apakah Valve akan membuka peluang lisensi untuk aksesori semacam ini, atau justru semakin memperketat pengawasan terhadap produk tak berlisensi? Hingga saat ini, dbrand belum mengumumkan rencana untuk merilis ulang Poverty Cube dengan jalur legal.



