Tim Sweeney: Steam Kehilangan Peluang Besar dengan Menolak Game Gratis seperti Fortnite
Baca dalam 60 detik
- CEO Epic Games menilai Valve terlalu kaku dengan tidak mengakomodasi game free-to-play populer di Steam.
- Sweeney membandingkan kebijakan terbuka Epic dan Microsoft dengan pendekatan tertutup Steam yang dinilai merugikan gamer dan developer.
- Ia membayangkan Steam bisa hadir di iOS dan Android jika mau mengadopsi model bisnis yang lebih inklusif.

Pendiri dan CEO Epic Games, Tim Sweeney, kembali melontarkan kritik tajam terhadap Steam. Dalam wawancara terbaru dengan PC Gamer, ia menilai Valve—pengembang di balik platform distribusi game terbesar di PC itu—telah melewatkan peluang emas dengan menolak menghadirkan game-game free-to-play (F2P) seperti Fortnite, Genshin Impact, dan judul milik Riot Games.
Menurut Sweeney, pendekatan tertutup Steam justru membatasi jangkauan platform tersebut. “Mereka punya bisnis yang nyaman di PC, tapi berapa persen audiens PC yang benar-benar mereka raih? Mereka tidak menjangkau pemain Fortnite, pemain Riot, pemain Genshin Impact—banyak game teratas di industri ini tidak ada di Steam,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Valve seharusnya belajar dari model terbuka yang diterapkan Epic Games Store dan Microsoft Store, yang menurutnya lebih progresif dan menguntungkan developer.
Kritik Sweeney bukan tanpa dasar. Selama bertahun-tahun, Steam mempertahankan kebijakan komisi 30% untuk sebagian besar game, kecuali untuk judul dengan pendapatan sangat tinggi. Sementara itu, Epic Games Store justru menawarkan potongan lebih rendah dan kesepakatan eksklusif untuk menarik developer. “Microsoft Store mematok 12%—kesepakatan yang sangat bagus. Google juga mulai memberi penawaran lebih baik untuk developer. Bayangkan jika Steam bisa ada di iPhone, di Android, dan membawa banyak game,” kata Sweeney.
Bagi gamer Indonesia, perdebatan ini memiliki resonansi tersendiri. Pasar game Tanah Air didominasi oleh game mobile dan F2P seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Genshin Impact. Jika Steam mengadopsi model yang lebih terbuka, bukan tidak mungkin game-game tersebut bisa dinikmati dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Namun, Valve selama ini enggan mengubah kebijakan karena khawatir mengganggu keseimbangan pasar dan kualitas layanan yang sudah mapan.
Analis industri menilai bahwa komentar Sweeney merupakan bagian dari strategi Epic untuk terus menekan dominasi Steam. “Epic jelas ingin merebut pangsa pasar dengan menawarkan kondisi yang lebih ramah developer. Tapi Valve punya basis pengguna setia yang sulit digoyahkan,” ujar seorang pengamat game dari firma riset Newzoo. Meski demikian, tekanan terhadap Steam terus meningkat, terutama setelah Google dan Microsoft mulai memangkas biaya platform mereka.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Valve bergerak? Dengan semakin banyaknya platform yang menawarkan komisi lebih rendah dan model bisnis yang lebih fleksibel, Steam mungkin harus mempertimbangkan ulang strateginya. Jika tidak, bukan tidak mungkin para developer besar akan semakin menjauh, dan para gamer pun mulai melirik alternatif lain. Satu hal yang pasti: persaingan di pasar distribusi game PC belum akan mereda dalam waktu dekat.



