BRI Siapkan Buyback Rp500 Miliar, Hery Gunardi Beberkan Strategi Transformasi
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Rakyat Indonesia akan membeli kembali sahamnya senilai Rp500 miliar pada pertengahan 2026 sebagai respons terhadap kondisi pasar.
- Group CEO Hery Gunardi menegaskan transformasi digital dan efisiensi operasional menjadi kunci menjaga pertumbuhan di tengah kenaikan BI Rate.
- Langkah rebranding dan diversifikasi bisnis di segmen urban dan private banking diharapkan memperkuat posisi BRI di luar segmen mikro.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) maksimal Rp500 miliar yang akan berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar modal, demikian diungkapkan Group CEO BRI Hery Gunardi dalam acara Economic Update CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).
Buyback tersebut akan menggunakan kas internal perseroan, menandakan likuiditas yang solid di tengah tekanan suku bunga acuan yang kini berada di level 5,75%. Hery menegaskan bahwa strategi ini merupakan bagian dari manajemen korporasi untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas harga saham. Meski demikian, ia tidak merinci target harga atau jumlah pasti saham yang akan dibeli.
Di luar aksi korporasi, BRI tengah menjalankan transformasi besar-besaran untuk menghadapi tantangan industri perbankan. Hery menyebutkan bahwa perseroan fokus pada peningkatan efektivitas operasional melalui optimalisasi jaringan kantor cabang, layanan BRIlink, serta penguatan platform digital BRImo. Transformasi ini diharapkan mampu menekan biaya dana (cost of fund) dan biaya kredit (cost of credit), sekaligus mendorong pendapatan dari sisi bunga dan non-bunga.
Sektor kredit mikro menjadi perhatian khusus. BRI melakukan perbaikan proses bisnis dengan memanfaatkan teknologi, yang berdampak pada peningkatan pendapatan bunga sekaligus menekan pencadangan. Hery menjelaskan bahwa langkah ini penting untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, inisiatif BRIvolution Reignite dirancang untuk menjawab persaingan yang semakin ketat dari bank digital dan fintech.
Rebranding BRI juga menjadi sorotan. Hery menegaskan bahwa BRI tidak hanya ingin dikenal sebagai bank pedesaan, tetapi juga mampu bersaing di perkotaan melalui segmen konsumer, termasuk nasabah kaya dan layanan private banking. Diversifikasi bisnis terus didorong untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih stabil.
Bagi investor di Indonesia, langkah buyback dan transformasi ini mencerminkan optimisme BRI terhadap prospek jangka panjang. Namun, efektivitas strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan bank BUMN ini mengelola risiko kredit dan mempertahankan pertumbuhan di tengah tekanan suku bunga. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah langkah ini cukup untuk mempertahankan posisi BRI sebagai raja kredit mikro sekaligus merambah segmen urban?



