Strikerz PHK 20% Karyawan: Gagal Deal Lisensi FIFA Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Strikerz, pengembang game sepak bola UFL, mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja terhadap 20% staf, membantah laporan sebelumnya yang menyebut separuh karyawan dipecat.
- Kegagalan negosiasi lisensi dengan FIFA disebut sebagai pemicu utama PHK, menggagalkan rencana event in-game terkait Piala Dunia 2026.
- UFL yang dirilis gratis pada Desember 2024 kesulitan mempertahankan basis pemain, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan game tersebut di tengah persaingan dengan eFootball dan FC 24.

Strikerz Inc., pengembang di balik game sepak bola UFL, akhirnya mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 20% tenaga kerja mereka. Klarifikasi ini muncul setelah laporan dari media Rusia App2Top yang menyebutkan angka PHK mencapai setengah dari total karyawan, dari 450 menjadi 200 orang. Dalam pernyataan resmi kepada Insider Gaming, Strikerz membantah angka tersebut namun tidak merinci jumlah pasti karyawan yang terdampak.
Kabar PHK ini mengejutkan industri game, terutama karena UFL baru dirilis secara gratis pada Desember 2024 untuk konsol PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. Game yang mengusung model free-to-play ini sempat dianggap sebagai pesaing potensial bagi eFootball dan EA Sports FC. Namun, menurut sumber internal, masalah di tubuh Strikerz sudah โmembara sejak lamaโ dan puncaknya terjadi ketika negosiasi lisensi dengan FIFA gagal mencapai kesepakatan.
Kegagalan tersebut disebut sebagai pemicu langsung PHK. Strikerz sebelumnya berencana menggelar in-game event yang terkait dengan Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Tanpa lisensi resmi FIFA, rencana itu pupus, dan perusahaan kehilangan salah satu sumber pendapatan potensial. Padahal, momen Piala Dunia sering dimanfaatkan pengembang game sepak bola untuk menarik pemain baru dan meningkatkan engagement.
Bagi industri game di Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan pentingnya lisensi resmi dalam game olahraga. Pasar game sepak bola di Indonesia sangat besar, dengan jutaan pemain setia eFootball dan FC 24. Tanpa lisensi klub atau turnamen resmi, game seperti UFL kesulitan bersaing, terutama jika tidak memiliki fitur unik atau pengalaman bermain yang superior. Strikerz mungkin harus memikirkan ulang strategi mereka, termasuk menjajaki kerja sama dengan liga domestik seperti Liga 1 Indonesia untuk menarik minat pemain lokal.
Analis game memperkirakan bahwa PHK ini bisa menjadi awal dari restrukturisasi yang lebih besar. โKetika negosiasi lisensi gagal, perusahaan harus memotong biaya operasional. PHK adalah langkah paling umum,โ ujar seorang pengamat industri yang enggan disebut namanya. โNamun, jika UFL tidak segera mendapatkan daya tarik, bukan tidak mungkin Strikerz akan melakukan PHK lanjutan atau bahkan menutup layanan.โ
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah UFL mampu bertahan di tengah persaingan ketat dan basis pemain yang terus menurun. Tanpa lisensi FIFA, akankah Strikerz mencari alternatif seperti kerja sama dengan liga-liga nasional atau turnamen e-sports? Atau justru game ini akan menjadi proyek yang ditinggalkan? Hingga saat ini, Strikerz belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai masa depan UFL dan nasib para karyawan yang tersisa.



