Dua Bintang Muda Everton: Hackney dan Armstrong, Duet yang Mengubah Lini Tengah?
Baca dalam 60 detik
- Everton merekrut Hayden Hackney dari Middlesbrough dengan biaya awal £16,5 juta yang bisa naik menjadi £25 juta, mengalahkan banyak klub Premier League.
- Gelandang kreatif berusia 23 tahun itu diharapkan menjadi pengatur serangan di bawah David Moyes, mengisi celah yang membuat Everton gagal ke Eropa musim lalu.
- Harrison Armstrong, produk akademi Everton yang dipinjamkan ke Preston, disebut bakal menjadi pemain Timnas Inggris dan bisa menjadi rival sekaligus pelengkap Hackney di lini tengah.

Everton memenangi perburuan gelandang kreatif Hayden Hackney setelah pemain 23 tahun itu memilih Goodison Park dibandingkan sejumlah stadion Premier League lain yang juga menginginkannya. Keputusan ini bukan sekadar transfer biasa—ia menjadi fondasi baru yang diharapkan mengangkat performa The Toffees musim depan.
Hackney, yang didatangkan dari Middlesbrough dengan biaya awal £16,5 juta (berpotensi naik menjadi £25 juta), dikenal sebagai gelandang dengan kemampuan distribusi bola kelas atas. Analis Raj Chohan menjulukinya "pengumpan murni" yang mampu mengatur ritme permainan. Di bawah arahan David Moyes, ia diplot sebagai pengatur serangan—peran yang sangat dibutuhkan Everton setelah kehilangan momentum menuju Eropa pada Maret lalu, saat mereka hanya terpaut lima poin dari Liverpool di posisi kelima.
Namun, yang menarik perhatian adalah keberadaan Harrison Armstrong di skuad yang sama. Gelandang 19 tahun ini merupakan produk akademi Everton yang dipinjamkan ke Preston North End pada paruh pertama musim lalu, lalu ditarik kembali oleh Moyes. Armstrong disebut-sebut akan menjadi pemain Timnas Inggris oleh suporter Preston, berkat kemampuan fisik dan teknik membawa bola ke area berbahaya.
Perpaduan Hackney dan Armstrong bisa menjadi kunci kebangkitan Everton. Hackney membawa ketenangan dan visi permainan, sementara Armstrong menawarkan energi ofensif dan duel fisik. Keduanya sama-sama mengasah kemampuan di Championship, kompetisi yang dikenal keras dan kompetitif. Jika Moyes mampu memadukan gaya mereka, lini tengah Everton tidak hanya akan solid, tetapi juga dinamis.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, cerita ini mengingatkan pada pentingnya pembinaan pemain muda dan strategi transfer yang cerdas. Klub-klub Liga 1 bisa belajar dari pendekatan Everton yang memadukan rekrutan mahal dengan produk akademi. Keberanian Moyes memanggil Armstrong dari masa peminjaman menunjukkan kepercayaan pada pemain muda—sesuatu yang masih jarang terjadi di sepak bola Indonesia.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Hackney dan Armstrong sama-sama masih muda dan perlu adaptasi dengan tekanan Premier League. Namun, jika keduanya mampu berkembang seperti James Garner atau Adam Wharton, Everton bisa memiliki lini tengah yang disegani. Pertanyaannya, mampukah Moyes meramu formula yang tepat agar keduanya tidak saling tumpang tindih, justru saling melengkapi?



