Dari Kejutan 2007 hingga Dominasi Terkini: Enam Laga Legendaris Wales vs Fiji
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Wales dan Fiji selalu menyajikan duel fisik dan kejutan, dengan momen ikonik seperti kekalahan Wales di Piala Dunia 2007.
- Fiji kini menjelma dari underdog menjadi kekuatan utama, dibuktikan dengan rekor 248 tekel Wales di Piala Dunia 2023 dan kemenangan pertama di Cardiff tahun lalu.
- Warisan pertandingan ini terus hidup, dari generasi Serevi hingga Radradra, menjadikan Fiji tim yang ditakuti dan dihormati di rugby global.

Ketika Wales dan Fiji bertemu di Stadion Principality, Cardiff, akhir pekan ini, bukan sekadar laga uji coba biasa. Rivalitas yang hanya tercipta 15 kali dalam sejarah uji coba resmi ini telah melahirkan momen-momen yang terukir dalam folklore rugby dunia—dari kejutan terbesar Piala Dunia 2007 hingga pertarungan brutal di Bordeaux 2023.
Bagi penggemar rugby generasi tertentu, menyebut “Wales vs Fiji” langsung membayangkan kekalahan menyakitkan di Nantes. Saat itu, Fiji yang membutuhkan kemenangan untuk lolos ke perempat final, menumbangkan Wales 38-34 dalam salah satu kejutan terbesar turnamen. Dampaknya luar biasa: pelatih Wales Gareth Jenkins dipecat, sementara ribuan suporter Wales yang sudah memesan tiket perempat final justru terbang ke Marseille—bukan untuk mendukung timnya, melainkan untuk bersorak bagi Fiji saat melawan Afrika Selatan. Ironisnya, try solo spektakuler Shane Williams dalam laga itu justru lebih bernuansa Fijian daripada Welsh.
Dua dekade kemudian, status underdog Fiji telah memudar. Di Piala Dunia 2023, Wales harus melakukan 248 tekel—rekor terbanyak dalam satu pertandingan pria—hanya untuk menang tipis 32-26. Semi Radradra nyaris mencetak try penentu jika operan terakhirnya akurat. Seminggu kemudian, Fiji mengalahkan Australia dan mendorong Inggris ke batas maksimal di perempat final. Turnamen itu menegaskan bahwa Fiji bukan lagi sekadar tim kuda hitam, melainkan kekuatan sejati.
Kemenangan 19-24 Wales atas Fiji tahun lalu di Cardiff menjadi bukti evolusi taktik Fiji. Untuk pertama kalinya, mereka menang di kandang Wales dengan permainan yang terkontrol, bukan sekadar mengandalkan kecepatan dan kejutan. Bermain dengan 14 pemain hampir sepanjang laga, Fiji menunjukkan kedewasaan dan disiplin yang sebelumnya jarang terlihat. “Ini langkah signifikan dalam evolusi mereka,” kata seorang analis rugby. “Mereka tidak hanya menakutkan karena bakat individu, tetapi juga karena kecerdasan kolektif.”
Warisan pertemuan ini juga terlihat dari garis keturunan pemain. Pada 1995, Waisale Rayasi mencetak try untuk Fiji. Kini, putranya Salesi Rayasi menjadi salah satu sayap terbaik dunia bersama Bordeaux-Begles, bergabung dengan Semi Radradra, Josua Tuisova, dan Jiuta Wainiqolo dalam lini belakang yang sarat pemain pemecah pertandingan. “Tidak ada negara lain yang memiliki begitu banyak pemain yang bisa menentukan hasil laga hanya dengan satu sentuhan bola,” ujar mantan kapten Wales Sam Warburton, yang menyebut pertemuan 2015 sebagai laga terberat dalam kariernya.
Bagi Indonesia, rivalitas ini menjadi cermin bagaimana tim kecil bisa bangkit melalui konsistensi dan pengembangan bakat. Federasi Rugby Indonesia (Persatuan Rugby Union Indonesia) dapat belajar dari model Fiji yang memadukan bakat alami dengan disiplin taktik. Meski rugby belum populer di Tanah Air, kisah Fiji menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan pemain dan mentalitas pemenang bisa mengubah posisi global.
Laga akhir pekan ini akan menjadi ujian apakah Wales mampu membendung gelombang Fijian yang kini datang sebagai favorit. Atau justru Fiji akan menulis babak baru dalam sejarah rivalitas yang telah melampaui sekadar olahraga—menjadi simbol perpaduan antara keindahan dan kebrutalan yang hanya dimiliki rugby.



