IPO Jio dan NSE: Dua Pilar Ekonomi Digital India yang Siap Go Public
Baca dalam 60 detik
- CEO Inter Milan Piero Ausilio mengakui negosiasi dengan Liverpool untuk Curtis Jones terhambat perbedaan harga yang signifikan, dengan tawaran Inter sekitar €25 juta berbanding permintaan €40 juta.
- Inter juga mengendurkan minat pada Oumar Solet dan Eduardo Camavinga karena faktor harga dan gaji yang tidak realistis, meski tetap berencana mendatangkan dua bek baru.
- Pernyataan ini menegaskan strategi Inter yang berhati-hati di bursa transfer, mengutamakan keseimbangan keuangan di tengah persaingan Serie A yang ketat.

Dua perusahaan paling ikonik di India—raksasa telekomunikasi Jio Platforms dan bursa saham terbesar, National Stock Exchange (NSE)—dalam waktu dekat akan mencatatkan saham perdana di pasar modal. Para analis menilai langkah ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan cermin dari perubahan fundamental ekonomi India dalam satu dekade terakhir.
Jio Platforms, anak usaha Reliance Industries milik miliarder Mukesh Ambani, diperkirakan mengumpulkan dana sekitar $4 miliar dengan valuasi mencapai $120–160 miliar. Sementara NSE, bursa derivatif terbesar di dunia, akan melepas 6% saham senilai $3,3 miliar yang memberi valuasi $57 miliar. Kedua perusahaan telah mengajukan draf pernyataan pendaftaran ke regulator pada bulan lalu.
Menurut Yatin Singh, CEO Investment Banking Emkay Global, kedua IPO ini mewakili dua sisi dari revolusi ekonomi India. "NSE adalah proksi langsung dari finansialisasi tabungan rumah tangga India ke reksa dana dan saham, sedangkan Jio adalah kisah perusahaan yang sendirian memicu revolusi digital," ujarnya kepada BBC. Singh menambahkan bahwa listing ini bisa menjadi tonggak sejarah seperti halnya IPO perusahaan perangkat lunak India beberapa dekade lalu.
Masuknya Jio ke pasar telekomunikasi pada 2016 mengubah peta persaingan. Dengan menawarkan data hampir gratis, perusahaan ini mengkonsolidasi industri yang semula terdiri dari 17 operator menjadi duopoli. Dampaknya terasa luas: India kini menjadi konsumen data seluler terbesar global, melampaui AS dan China. Perubahan ini juga mendorong adopsi pembayaran digital dan layanan streaming. Menurut laporan Kotak Bank, tagihan data bulanan warga India meningkat tiga kali lipat, tiga kali lebih cepat dari pertumbuhan upah pedesaan.
Di sisi lain, NSE tumbuh seiring ledakan investor ritel. Berkat data murah dan ponsel pintar, jumlah rekening perdagangan daring melonjak drastis. Feroze Azeez dari Anand Rathi Wealth Limited menilai listing NSE yang sempat tertunda karena masalah tata kelola kini menandai "kematangan" infrastruktur pasar India. Bursa ini menjadi tulang punggung pasar saham senilai $4,85 triliun, dengan pendapatan yang bertumpu pada volume perdagangan yang terus meningkat.
Jio sendiri tidak lagi sekadar perusahaan telekomunikasi. Melalui kemitraan dengan Nvidia dan Meta, Jio membangun pusat data dan model bahasa besar (LLM) berbasis bahasa lokal. Perusahaan juga beralih dari fase akuisisi pangsa pasar ke monetisasi, ditandai dengan kenaikan tarif dan migrasi ke pascabayar. "Bersama, Jio dan NSE mewakili dua pilar ekonomi baru India," kata Azeez.
Namun, optimisme itu dihadapkan pada realitas pasar. Dalam setahun terakhir, pasar saham India termasuk yang terburuk secara global. Investor asing menarik miliaran dolar untuk mencari imbal hasil lebih tinggi di AS dan peluang AI di Asia. Pelemahan rupee kian memperburuk daya tarik India. Banyak investor ritel juga merugi akibat IPO perusahaan seperti PayTM dan LIC yang kini diperdagangkan di bawah harga perdana.
"Bahkan bisnis berkualitas tinggi bisa memberikan imbal hasil mengecewakan jika diterbitkan dengan valuasi yang terlalu agresif," peringatan Azeez. Pertanyaan besarnya: apakah dua raksasa ini mampu membalikkan sentimen dan mengembalikan kepercayaan investor?



