IHSG Hijau di Tengah Aksi Jual Asing: Tiga Saham Ini Patut Dicermati
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 0,87% ke 5.744,56 pada Kamis (2/7), ditopang saham BBCA, BMRI, dan BRPT.
- Investor asing masih mencatat jual bersih Rp322,69 miliar di pasar reguler, memperpanjang tren outflow tahun ini.
- Aksi korporasi MAPA, COCO, dan MTEL menawarkan peluang, namun risiko dilusi dan volatilitas global perlu diwaspadai.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (2/7/2026), menguat 0,87% ke level 5.744,56. Namun, di balik penguatan tersebut, investor asing justru kembali mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp322,69 miliar di pasar reguler dan Rp237,87 miliar di seluruh pasar, menandakan sentimen asing yang masih hati-hati terhadap pasar saham Indonesia.
Penguatan IHSG ditopang oleh sektor industri yang melesat 2,97%, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah, turun 0,47%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BRPT menjadi motor penggerak utama, sedangkan MORA, BREN, dan BYAN justru menekan indeks. Di pasar global, pergerakan indeks Amerika Serikat bervariasi: Dow Jones menguat 1,14%, S&P 500 flat, dan Nasdaq terkoreksi 0,80%.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing telah mencatatkan jual bersih sekitar Rp88,57 triliun di pasar saham Indonesia. Meski demikian, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing menguat 1,51% dan 1,98%, mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar masih melihat potensi di pasar Indonesia dalam jangka panjang. Volatilitas IHSG diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian global dan arus modal asing yang fluktuatif.
Dari sisi aksi korporasi, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) melalui anak usahanya, Athletica International Holdings Pte. Ltd., menandatangani perjanjian akuisisi 100% saham Sports Direct Malaysia Sdn. Bhd. dari Frasers Group Trading Limited dengan nilai transaksi sekitar Rp2,5 triliun. Akuisisi ini memperkuat ekspansi MAPA di kawasan ASEAN, di mana perseroan telah mengoperasikan lebih dari 2.200 gerai hingga Desember 2025, termasuk 60 gerai di Malaysia. Secara teknikal, saham MAPA berpotensi bergerak menuju area Rp605 seiring ex-date dividen yang jatuh pada hari ini.
Sementara itu, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) berencana melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) III dengan menerbitkan maksimal 10,68 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp120 per saham. Jika seluruh saham terserap, perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp1,28 triliun. Sekitar 91,52% dana akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, sisanya untuk modal kerja. COCO juga akan menerbitkan Waran Seri I maksimal 355,95 juta dengan rasio 30:1, harga pelaksanaan Rp800 per saham, yang berpotensi menambah dana Rp284,76 miliar. Rasio HMETD 1:3 berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 75% bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya. Pemegang saham pengendali Mahogany Global Investment (51,32%) berkomitmen melaksanakan seluruh HMETD dan bertindak sebagai pembeli siaga. Periode perdagangan HMETD dijadwalkan pada 14โ21 Juli.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp25,65 per saham, total sekitar Rp2,08 triliun, setara dividend payout ratio 98%. Sepanjang 2025, MTEL membukukan pendapatan Rp9,53 triliun (tumbuh 2,43%) dan laba bersih Rp2,12 triliun (naik 0,55%). Dengan harga saham Rp494, dividend yield mencapai 5,19%. Cum dividen dijadwalkan pada 6 Juli, pembayaran pada 31 Juli.
Bagi investor ritel Indonesia, momentum ini menawarkan peluang sekaligus risiko. Aksi korporasi seperti HMETD COCO dapat memberikan potensi keuntungan bagi pemegang saham yang aktif, namun dilusi signifikan mengancam yang pasif. Sementara itu, dividen MTEL yang tinggi menarik bagi pencari pendapatan pasif, namun perlu dicermati prospek pertumbuhan jangka panjang. Dengan volatilitas IHSG yang masih tinggi, investor disarankan untuk selektif dan memperhatikan fundamental emiten serta timing entry.



