Didong Gayo: Antara Festival Meriah dan Fungsi Sosial yang Memudar
Baca dalam 60 detik
- Nicolo Zaniolo terancam hengkang dari Udinese hanya beberapa pekan setelah dipermanenkan karena sengketa gaji yang mencapai separuh dari pendapatannya di Galatasaray.
- Udinese membuka pintu transfer dengan banderol €15-20 juta untuk pemain 26 tahun itu, yang telah membela lima klub berbeda dalam tiga musim terakhir.
- Lazio di bawah Gennaro Gattuso menjadi peminat utama, memanfaatkan situasi finansial Udinese yang perlu dana segar untuk belanja pemain baru.

Banjir dan longsor yang terus melanda dataran tinggi Gayo, Aceh, dalam beberapa tahun terakhir bukan semata ulah alam, melainkan juga cermin memudarnya fungsi sosial kesenian tradisional yang dulu menjadi pengingat batas dalam memperlakukan lingkungan.
Di balik bencana yang kian sering terjadi, tersimpan ironi: seni pertunjukan Didong yang selama berabad-abad menjadi ruang kritik dan kontrol sosial kini perlahan kehilangan peran reflektifnya. Didong, yang mengintegrasikan musik tubuh, sastra lisan, dan tepukan ritmis, dulu menjadi medium bagi para ceh (pelantun syair) untuk menyampaikan kegelisahan kolektif—termasuk soal kerusakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam.
Syair-syair seperti "Uten" karya Ceh Sali Gobal pada 1960-an, yang lahir setelah pembukaan hutan memicu banjir besar, menunjukkan betapa tajamnya fungsi kritis Didong. "Donya munaos lagu Atu tareng penghalang" (Dunia membuat lagu hanya tinggal batu yang menjadi penghalang), demikian sepenggal syair yang masih dikenang. Namun, menurut Ceh Sukri dari kelompok Kemara Bujang, kegelisahan semacam itu kini jarang terdengar. Didong lebih sering tampil dalam festival dan kompetisi yang menonjolkan kemampuan vokal serta kekompakan kelompok, bukan lagi sebagai ruang pergulatan sosial.
Pergeseran ini tidak terjadi begitu saja. Hutan-hutan di Gayo perlahan berubah menjadi komoditas, sementara ruang budaya yang dulu mengingatkan masyarakat tentang hubungan moral dengan alam ikut melemah. Anak-anak muda masih antusias memainkan Didong, tetapi konteks sosial tempat kesenian itu hidup telah berubah. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana Didong masih diberi ruang untuk menjalankan fungsi reflektifnya?
Fungsi sosial Didong sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Pada 2019, ketika wacana tambang memicu penolakan di Gayo, para ceh kembali bersuara melalui syair-syair tentang kerusakan alam dan hilangnya ruang hidup. Momen itu membuktikan bahwa Didong masih memiliki tenaga sosial. Namun, momen semacam itu semakin langka. Tanpa upaya sadar untuk mengembalikan peran kritisnya, Didong berisiko menjadi sekadar tontonan tanpa makna.
Untuk itu, diperlukan langkah konkret. Festival dan perlombaan Didong dapat memberi porsi lebih besar pada tema lingkungan dan tata kelola sumber daya alam. Sekolah dan lembaga adat bisa melibatkan para ceh dalam pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal. Pemerintah daerah pun perlu melihat Didong bukan sekadar agenda kebudayaan, melainkan sebagai ruang dialog publik yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat.
Masyarakat Gayo mungkin tidak kehilangan Didong sebagai pertunjukan. Yang perlahan menjauh justru kebiasaan mendengar kembali nasihat-nasihat yang hidup di dalamnya. Akankah Didong kembali menjadi pengingat sebelum alam Gayo semakin sunyi?



