Kanada-Nigeria: Nilai Dagang Tembus C$3,2 Miliar, LBS Dorong Kolaborasi Lebih Dalam
Baca dalam 60 detik
- Lagos Business School (LBS) mendorong penguatan kemitraan ekonomi Kanada-Nigeria seiring nilai perdagangan bilateral mencapai C$3,2 miliar pada 2025.
- Deputy High Commissioner Kanada menekankan pentingnya kepercayaan dan kepemimpinan etis sebagai fondasi kemitraan jangka panjang di sektor pertambangan, pertanian, dan energi terbarukan.
- Pergeseran tatanan global membuka peluang bagi negara-negara middle power seperti Kanada untuk memperluas kerja sama dengan Nigeria, termasuk melalui misi dagang dan forum bisnis.

Nilai perdagangan bilateral antara Kanada dan Nigeria menembus C$3,2 miliar pada 2025, mendorong Lagos Business School (LBS) untuk menyerukan penguatan kolaborasi ekonomi di tengah dinamika perdagangan global yang berubah cepat.
Dekan LBS, Prof. Olayinka David-West, menyampaikan seruan itu dalam sebuah diskusi dengan Deputy High Commissioner Kanada untuk Nigeria, Carlos Rojas-Arbulu, di Lagos, Kamis (12/12). Menurut David-West, Kanada telah menjadi salah satu tujuan utama warga Nigeria untuk pendidikan, bisnis, dan migrasi, mencerminkan ikatan antarmasyarakat dan ekonomi yang kian erat. “Komunitas Nigeria yang terus berkembang di Kanada memperkuat pertukaran perdagangan, investasi, dan pengetahuan antara kedua negara,” ujarnya.
Adi Bongo, profesor ekonomi di LBS, menambahkan bahwa tatanan politik dan ekonomi global sedang mengalami perubahan signifikan. Negara-negara middle power seperti Kanada kini memainkan peran lebih besar seiring runtuhnya era unipolar atau bipolar. “Rantai nilai global sedang dibentuk ulang, dan setiap negara berlomba merebut peluang baru,” kata Bongo. Ia menilai keterlibatan Kanada yang semakin intensif dengan Nigeria merupakan bagian dari strategi memperluas kemitraan internasional sekaligus menciptakan peluang kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Dalam sambutannya, Rojas-Arbulu menekankan bahwa kemitraan yang langgeng harus dibangun di atas kepercayaan, kepemimpinan etis, dan investasi jangka panjang. Ia mengungkapkan bahwa Kanada tengah mendiversifikasi hubungan dagang dan investasinya, serta memandang Nigeria sebagai mitra strategis di sektor pertambangan, pertanian, energi terbarukan, teknologi, dan pendidikan. “Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apa yang terjadi selanjutnya—apakah percakapan menjadi kontrak, perkenalan menjadi investasi, dan hubungan menjadi kemitraan abadi,” tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Sebagai sesama negara berkembang dengan populasi besar dan sumber daya alam melimpah, Nigeria menunjukkan bagaimana diplomasi ekonomi yang terfokus dapat mendongkrak nilai perdagangan. Indonesia juga tengah menjajaki penguatan hubungan dengan Kanada, terutama di sektor energi bersih dan pendidikan. Keberhasilan Nigeria dalam menarik minat investor Kanada melalui misi dagang dan forum bisnis bisa menjadi model bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi kerja sama serupa.
Rojas-Arbulu menambahkan bahwa Kanada telah mendukung sejumlah misi dagang ke Nigeria dalam setahun terakhir, yang berpuncak pada konferensi dengan 220 peserta dan 31 perusahaan Kanada. Ia menekankan bahwa perdagangan berkelanjutan dibangun di atas kepercayaan, bukan sekadar kebijakan. Kepemimpinan etis, menurutnya, menjadi kunci bagi bisnis, investor, dan pemerintah yang menginginkan kemitraan abadi. LBS, sebagai institusi pendidikan, dinilai memiliki peran krusial dalam mencetak pemimpin bertanggung jawab yang mampu mendorong masa depan Afrika melalui integritas dan pengambilan keputusan yang tepat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana Kanada dan Nigeria dapat menerjemahkan komitmen tersebut menjadi proyek nyata di lapangan. Dengan persaingan global yang semakin ketat, apakah kedua negara mampu mempertahankan momentum pertumbuhan perdagangan dan investasi yang telah terbangun?



