Sektor Manufaktur Kanada Tumbuh Tiga Bulan Beruntun, Tarif AS dan Perang Iran Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Indeks PMI manufaktur Kanada bertahan di zona ekspansi selama tiga bulan berturut-turut, didorong peningkatan produksi dan pesanan baru.
- Konflik Iran memicu lonjakan harga minyak dan biaya logistik, mendorong inflasi input tertinggi dalam hampir empat tahun.
- Kekhawatiran terhadap kebijakan tarif AS menekan optimisme pelaku usaha, meski ada rencana peluncuran produk baru.

Ekspansi sektor manufaktur Kanada memasuki bulan ketiga berturut-turut pada Juni 2025, ditopang oleh kenaikan output dan pesanan baru, meskipun tekanan biaya dari perang Iran serta ketidakpastian tarif Amerika Serikat mulai menggerogoti kepercayaan dunia usaha.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Kanada yang dirilis S&P Global tercatat sebesar 53,0 pada Juni, sedikit naik dari 52,9 pada Mei. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, dan capaian tiga bulan beruntun ini merupakan laju pertumbuhan terkuat di atas tren jangka panjang. Namun, di balik angka positif itu, sejumlah indikator menunjukkan kerapuhan.
Pertumbuhan lapangan kerja di sektor manufaktur melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2024. Perusahaan-perusahaan meningkatkan aktivitas pembelian untuk mengamankan stok dan mengantisipasi kenaikan harga dari pemasok. Namun, kenaikan jumlah tenaga kerja ini lebih merupakan respons terhadap penumpukan pekerjaan yang belum selesai (backlog) akibat tekanan kapasitas produksi.
Konflik Iran menjadi sumber utama gangguan rantai pasok. Gangguan jalur pelayaran global akibat perang tersebut memperpanjang waktu pengiriman hingga level terburuk dalam hampir tiga tahun. Kelangkaan stok di pemasok, ditambah dengan permintaan yang meningkat, mendorong kenaikan harga input dengan laju inflasi tertinggi sejak Juli 2022. Harga minyak yang tinggi dan biaya transportasi ikut menyumbang tekanan inflasi, sementara tarif disebut-sebut sebagai pendorong utama kenaikan harga.
Di sisi permintaan, meskipun total pesanan baru meningkat, lajunya melambat menjadi yang paling lemah sejak Maret 2025. Pesanan ekspor baru justru mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Beberapa perusahaan melaporkan melemahnya permintaan akibat dampak tarif terhadap buku pesanan mereka. Untuk melindungi margin, perusahaan menaikkan harga jual, meskipun inflasi harga jual sedikit melunak ke level terendah tiga bulan.
Paul Smith, Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, menilai bahwa ekspansi manufaktur Kanada saat ini sebagian didorong oleh aksi penimbunan stok (stockpiling) sebagai respons terhadap gangguan pasokan yang parah. โPertumbuhan output dan pesanan baru memang positif, tetapi di balik itu ada tantangan besar berupa gangguan rantai pasok dan tekanan harga yang signifikan,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika sektor manufaktur Kanada memberikan gambaran tentang bagaimana konflik geopolitik dan kebijakan proteksionisme negara besar dapat memicu efek domino pada rantai pasok global. Kenaikan harga minyak dan biaya logistik akibat perang Iran berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan komponen manufaktur ke Indonesia. Sementara itu, ketidakpastian tarif AS mengingatkan bahwa negara-negara emerging market seperti Indonesia juga rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Ke depan, optimisme pelaku usaha manufaktur Kanada masih terjaga, didukung rencana peluncuran produk baru. Namun, kekhawatiran terhadap kebijakan tarif AS telah menekan indeks kepercayaan ke level terendah tiga bulan dan di bawah tren jangka panjang. Pertanyaannya, mampukah sektor manufaktur Kanada mempertahankan momentum ekspansi di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian perdagangan yang masih membayangi?



