Dangote Kembali Pangkas Harga BBM: Penurunan Keempat dalam Sebulan, Klaim Masih Gunakan Stok Minyak Mahal
Baca dalam 60 detik
- Dangote Refinery memangkas harga bensin Rp50 per liter, menjadikan total penurunan dalam sebulan mencapai Rp200 per liter.
- Penurunan ini terjadi meskipun kilang masih memproses minyak mentah yang dibeli saat harga internasional tinggi, sekitar US$124,8 per barel pada Mei.
- Jika tren harga minyak global tetap rendah, konsumen Nigeria berpotensi menikmati penurunan harga lebih lanjut dalam waktu dekat.

Dangote Petroleum Refinery & Petrochemicals kembali memangkas harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin sebesar 50 naira per liter, menandai pemotongan keempat dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Langkah ini diambil di tengah klaim perusahaan bahwa kilang masih memproses minyak mentah yang dibeli pada saat harga internasional jauh lebih tinggi.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis lalu, perusahaan menyatakan bahwa penurunan harga terbaru ini membuat total pengurangan harga bensin dari harga ex-depot mencapai 200 naira per liter sejak 30 Mei 2026. Kini harga gantry bensin berada di angka 1.075 naira per liter. Selain bensin, Dangote juga memangkas harga solar (AGO) sebesar 300 naira per liter dan avtur (Jet A1) sebesar 520 naira per liter selama periode yang sama.
Meski harga BBM di pasar masih di atas ekspektasi, perusahaan menegaskan bahwa pemotongan bertahap ini merupakan wujud komitmen untuk memastikan masyarakat Nigeria menikmati manfaat dari perkembangan pasar yang menguntungkan, tanpa mengorbankan keberlanjutan operasional kilang dalam jangka panjang. Namun, Dangote juga mengingatkan bahwa harga produk minyak tidak bisa mengikuti pergerakan harian minyak mentah internasional secara langsung, karena minyak mentah dibeli berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum diolah.
Menurut data yang diungkapkan perusahaan, rata-rata biaya minyak mentah yang diolah pada Mei mencapai sekitar US$124,80 per barel, dan pada Juni turun menjadi US$95,25 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga acuan internasional saat ini yang sekitar US$71,01 per barel. Dangote menjelaskan bahwa biaya pengadaan minyak mentah tidak semata-mata berdasarkan patokan ICE Brent yang lazim diberitakan media, melainkan menggunakan patokan Dated Brent ditambah premi pasar, biaya pengiriman, dan logistik. Akibatnya, biaya bahan baku aktual berbeda signifikan dari harga patokan.
Dangote mengaku sengaja tidak membebankan seluruh kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen, melainkan menyerap sebagian besar tambahan biaya demi menjaga stabilitas pasar dan melindungi masyarakat Nigeria dari gejolak harga energi global. Pendekatan ini, menurut perusahaan, telah membantu menjaga harga BBM di Nigeria tetap lebih rendah dibandingkan negara tetangga, bahkan setelah memperhitungkan pajak yang berlaku.
Perusahaan juga menegaskan bahwa produk yang saat ini dipasok ke pasar berasal dari stok minyak mentah yang dibeli saat harga masih tinggi. Namun, seiring masuknya pasokan minyak mentah dengan harga lebih rendah ke dalam siklus produksi, Dangote mulai secara sistematis menurunkan harga jual. "Penurunan hari ini sebesar N50 per liter adalah pemotongan keempat dalam sebulan, sehingga total penurunan kumulatif mencapai lebih dari N200 per liter pada bensin. Pendekatan ini memastikan bahwa keputusan harga didasarkan pada ekonomi produksi aktual dan biaya persediaan, bukan fluktuasi jangka pendek pasar minyak internasional," demikian bunyi pernyataan perusahaan.
Bagi Indonesia, langkah Dangote ini memberikan gambaran menarik tentang bagaimana kehadiran kilang domestik skala besar dapat menjadi bantalan stabilitas harga BBM di tengah gejolak harga minyak global. Meskipun Indonesia memiliki kilang Pertamina, ketergantungan pada impor BBM masih tinggi. Model Dangote yang berani menyerap biaya tinggi demi stabilitas pasar bisa menjadi referensi bagi kebijakan energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan upaya memperkuat ketahanan energi.
Ke depan, jika harga minyak mentah internasional tetap berada di level rendah dan pasokan minyak murah terus menggantikan stok mahal, Dangote memperkirakan harga BBM di Nigeria masih berpotensi turun lebih lanjut. Pertanyaannya, akankah penurunan harga ini berkelanjutan atau hanya bersifat sementara seiring fluktuasi geopolitik global?



