Naira Menguat di Pasar Resmi, Terpuruk Lawan Euro dan Pound Sterling
Baca dalam 60 detik
- Naira mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS di pasar resmi dan paralel, namun melemah terhadap euro, poundsterling, yen, dan franc Swiss.
- Penurunan intervensi bank sentral dan turunnya harga minyak mentah menjadi faktor yang membayangi stabilitas naira ke depan.
- Transaksi valas di pasar antar bank merosot tajam, mengindikasikan berkurangnya tekanan permintaan dolar dari pembayaran internasional.

Naira Nigeria mencatat penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing pada Kamis (2/7), namun justru terperosok di hadapan sejumlah mata uang utama lainnya seperti euro dan poundsterling. Di pasar resmi, naira naik 0,16 persen ke level โฆ1.370,15 per dolar, sementara di pasar paralel menguat 0,36 persen ke โฆ1.383 per dolar. Namun, momentum positif itu tidak berlangsung lama karena mata uang Negeri Afrika Barat tersebut langsung kehilangan pijakan di hadapan euro, poundsterling, yen Jepang, dan franc Swiss.
Data harian yang dirilis Bank Sentral Nigeria (CBN) menunjukkan bahwa naira melemah terhadap euro menjadi โฆ1.567,70 dari sebelumnya โฆ1.564,80. Adapun terhadap poundsterling, naira turun ke โฆ1.831,50 dari โฆ1.821,07, sementara terhadap yen Jepang melemah ke โฆ8,51 dari โฆ8,45. Pelemahan ini terjadi di tengah indeks dolar yang kembali tertekan, sehingga membuat mata uang berbasis dolar seperti euro dan pound justru menguat relatif terhadap naira.
Meski demikian, penguatan naira terhadap dolar AS selama tiga hari berturut-turut menjadi kabar positif setelah pekan lalu mata uang ini menunjukkan performa lemah. Menurut data CBN, kurs resmi ditutup di โฆ1.370,15 per dolar, turun dari posisi sebelumnya โฆ1.372,41. Sepanjang sesi perdagangan, transaksi terjadi pada rentang โฆ1.360 hingga โฆ1.373 per dolar, yang menurut analis mencerminkan tidak adanya tekanan signifikan dari pembayaran internasional.
Namun, volume transaksi valas di pasar antar bank justru menurun drastis. Data CBN mencatat omzet valas antar bank hanya mencapai $85,52 juta dari 94 kesepakatan yang ditutup oleh lembaga keuangan, turun dari $90,30 juta pada hari sebelumnya. Bahkan jika dibandingkan dengan puncak intra-pekan yang mencapai $269,90 juta, penurunan ini sangat tajam. Penurunan volume ini terjadi meskipun intervensi CBN di pasar valas mulai melambat, yang seharusnya memberi ruang bagi mekanisme pasar.
Dari sisi eksternal, harga minyak mentah Brent turun ke kisaran $70 per barel pada hari yang sama, seiring dengan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah WTI bahkan sempat menyentuh level terendah multi-bulan di $67,45. Pelonggaran ketegangan AS-Iran telah mengikis premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak. Meskipun kemajuan diplomatik di Qatar memberikan stabilitas jangka pendek, desakan Iran untuk tetap mengendalikan Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian jangka menengah. Secara teknis, grafik harian menunjukkan "death cross" bearish dengan harga yang telah jatuh di bawah level support kritis.
Bagi Nigeria, penurunan harga minyak menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengekspor minyak utama, pendapatan migas masih menjadi tulang punggung devisa negara. Jika harga minyak terus merosot, tekanan terhadap naira bisa kembali meningkat. Para analis memperkirakan bahwa naira masih akan bergerak dalam kisaran yang relatif stabil hingga akhir 2026, meskipun intervensi bank sentral berkurang. Namun, dengan momentum harga minyak yang masih bearish, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka. Pertanyaan besarnya, akankah CBN kembali mengerahkan instrumen kebijakannya untuk menahan laju pelemahan naira, atau justru membiarkan pasar menemukan keseimbangan barunya?



