Brazil Hentikan Langkah Jepang di Babak 32 Besar Piala Dunia Lewat Gol Menit Akhir
Baca dalam 60 detik
- Jepang kalah 2-1 dari Brasil setelah unggul lebih dulu, memperpanjang catatan tanpa kemenangan di fase gugur Piala Dunia.
- Gol penyeimbang Casemiro dan gol kemenangan Martinelli di masa injury time memupus harapan Samurai Blue untuk pertama kali lolos ke 16 besar.
- Brasil, yang belum terkalahkan dalam lima pertemuan terakhir melawan Jepang di Piala Dunia, akan menghadapi Norwegia atau Pantai Gading di babak berikutnya.

Jepang harus mengubur mimpi untuk mencatat sejarah baru setelah takluk 2-1 dari Brasil di babak 32 besar Piala Dunia, Senin (30/6) waktu setempat. Gol kemenangan Gabriel Martinelli pada menit kelima injury time memupus perlawanan Samurai Blue yang sejatinya sempat unggul lebih dulu melalui gol indah Kaishu Sano.
Bermain di Houston Stadium, Jepang tampil percaya diri sejak awal. Sano, gelandang Mainz, membuka keunggulan pada menit ke-29 setelah memotong umpan lawan di tengah lapangan, melewati Casemiro, dan melepaskan tembakan dari jarak 25 meter yang tak mampu dijangkau kiper Alisson. Gol itu menjadi penanda dominasi Jepang sepanjang babak pertama, meskipun Brasil beberapa kali mengancam lewat tembakan Cunha dan sundulan Bruno Guimarares yang masih bisa diamankan Zion Suzuki.
Namun, Brasil yang lima kali juara dunia tidak tinggal diam. Pada menit ke-56, Casemiro menyundul umpan silang Gabriel Magalhaes untuk menyamakan kedudukan. Tekanan Brasil terus meningkat, dan Vinicius Junior nyaris membawa timnya unggul andai tembakannya tidak membentur tiang gawang. Pelatih Jepang Hajime Moriyasu kemudian memasukkan Yukinari Sugawara dan Junnosuke Suzuki untuk memperkuat pertahanan, tetapi Martinelli menjadi pahlawan Brasil dengan tembakan dari dalam kotak penalti yang masuk setelah mengenai tiang kanan gawang.
Kekalahan ini memperpanjang catatan pahit Jepang di fase gugur Piala Dunia. Dari tujuh partisipasi terakhir, Samurai Blue selalu tersingkir di babak 16 besar atau 32 besar, termasuk kalah adu penalti dari Paraguay (2010) dan Kroasia (2022), serta kalah normal dari Turki (2002) dan Belgia (2018). Pelatih Moriyasu, yang sebelumnya sukses membawa Jepang mengalahkan Brasil 3-2 dalam laga uji coba Oktober lalu, gagal mengulang kejutan tersebut di panggung resmi.
Bagi Indonesia, kekalahan Jepang menjadi pengingat betapa sulitnya bersaing di level tertinggi sepak bola dunia. Jepang, yang kerap dijadikan tolok ukur perkembangan sepak bola Asia, masih kesulitan menembus babak 16 besar. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas antara tim Asia dan raksasa Amerika Selatan masih lebar, meskipun sepak bola Asia terus berkembang. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2026, bisa belajar dari kegigihan Jepang dalam menguasai permainan, namun juga perlu memperbaiki penyelesaian akhir dan ketahanan fisik di menit-menit krusial.
Brasil selanjutnya akan menunggu pemenang antara Norwegia dan Pantai Gading. Dengan performa yang belum stabil, Brasil masih dianggap sebagai kandidat kuat, tetapi Jepang hampir saja membuktikan bahwa tak ada yang mustahil. Pertanyaannya, akankah kegagalan ini menjadi momentum bagi Jepang untuk melakukan evaluasi besar-besaran, atau justru kembali terjebak dalam siklus yang sama di turnamen mendatang?



