Direktur Eksekutif Supermassive Games Mundur Setelah Rilis Tiga Gim Gagal
Baca dalam 60 detik
- Robert Henrysson mengundurkan diri dari jabatan CEO Supermassive Games sebulan setelah perilisan Directive 8020 yang menuai respons beragam.
- Selama kepemimpinannya, studio merilis tiga gim yang secara komersial kurang sukses, termasuk Little Nightmares 3 dan The Casting of Frank Stone.
- Henrysson sebelumnya sukses melipatgandakan pendapatan Avalanche Studios dan kini akan fokus pada investasi pribadi serta peran konsultan.

Kurang dari dua bulan setelah gim horor interaktif Directive 8020 dirilis dengan sambutan yang biasa-biasa saja, Robert Henrysson, CEO Supermassive Games, memutuskan untuk meninggalkan posisinya. Langkah ini menandai berakhirnya era kepemimpinan yang hanya berlangsung sekitar 16 bulan di studio pengembang gim asal Inggris tersebut.
Henrysson, yang sebelumnya menjabat sebagai Chairman dan CEO interim di Avalanche Studios Group—pengembang seri Just Cause—bergabung dengan Supermassive pada Januari 2024. Di bawah komandonya, studio merilis tiga judul utama: The Casting of Frank Stone, Little Nightmares 3, dan Directive 8020. Sayangnya, ketiga gim tersebut tidak mencapai target kesuksesan yang diharapkan, baik dari segi kritik maupun penjualan.
Dalam unggahan di LinkedIn, Henrysson menyebut masa jabatannya sebagai "babak yang sangat berharga" dan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada tim Supermassive. Ia menekankan bahwa membangun studio bukanlah pekerjaan satu orang, melainkan upaya seluruh tim. "Kalian adalah studio gim bercerita terhebat di bumi, kalian keren!" tulisnya, seraya menambahkan bahwa ia akan menikmati musim panas bersama keluarga dan mengelola portofolio investasi pribadinya.
Kepergian Henrysson terjadi di tengah gejolak industri gim global yang tengah menghadapi tekanan biaya produksi dan perubahan preferensi pemain. Supermassive Games, yang dikenal lewat seri Until Dawn dan The Dark Pictures Anthology, kini harus mencari pengganti yang mampu membalikkan tren penurunan. Analis industri memperkirakan bahwa studio akan fokus pada pengembangan gim dengan anggaran lebih kecil atau bermitra dengan penerbit besar untuk mengurangi risiko.
Bagi pengamat industri gim di Indonesia, langkah Henrysson menjadi pengingat bahwa kesuksesan di industri kreatif tidak selalu linier. Meskipun ia memiliki rekam jejak cemerlang di Avalanche, tantangan di Supermassive membuktikan bahwa faktor seperti visi kreatif, timing pasar, dan penerimaan komunitas sangat menentukan. Perusahaan gim Tanah Air, yang sebagian besar masih merintis, dapat belajar dari pentingnya diversifikasi portofolio dan manajemen ekspektasi di tengah siklus industri yang tidak menentu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan mengisi kursi CEO Supermassive Games dan apakah studio ini mampu kembali ke jalur kesuksesan dengan jajaran gim mendatang. Henrysson sendiri mengaku masih mencintai industri gim dan siap mengambil peran konsultatif—sebuah sinyal bahwa pengalamannya masih akan dimanfaatkan, meski tidak lagi di kursi eksekutif.



