Ian Machado Garry Siap Tumbangkan Makhachev demi Gelar Juara UFC Kedua untuk Irlandia
Baca dalam 60 detik
- Petarung Irlandia Ian Machado Garry menantang juara bertahan Islam Makhachev di UFC 330, dengan modal keunggulan fisik yang signifikan.
- Kemenangan akan mengukuhkan Garry sebagai juara UFC kedua dari Irlandia setelah Conor McGregor, sekaligus memutus rekor 16 kemenangan beruntun Makhachev.
- Laga ini menjadi ujian besar bagi Garry, yang dianggap underdog, namun yakin dengan kemampuan judo dan postur tubuhnya untuk mengimbangi sang juara.

Ian Machado Garry berdiri di ambang sejarah: kemenangan atas Islam Makhachev di UFC 330, Sabtu (16/8) waktu setempat, akan menjadikannya juara UFC kedua dari Irlandia. Namun, jalan menuju gelar juara kelas welter itu dipenuhi rintangan besar, karena ia harus menjungkalkan petarung yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.
Pertarungan di Xfinity Mobile Arena, Philadelphia, ini mempertemukan dua gaya bertarung yang kontras. Garry, yang dijuluki "The Future", memiliki keunggulan tinggi lima inci dan jangkauan pukulan empat inci lebih panjang dibanding Makhachev. Keunggulan fisik ini menjadi senjata utama yang diharapkan mampu membongkar pertahanan juara bertahan yang selama ini mendominasi divisi ringan.
Makhachev, petarung asal Dagestan berusia 34 tahun, datang dengan rekor mengesankan: 16 kemenangan beruntun di UFC. Jika menang lagi, ia akan memecahkan rekor sebagai petarung dengan rentetan kemenangan terpanjang dalam sejarah organisasi. Namun, Garry menegaskan bahwa dirinya tidak gentar. "Saya tahu sejak awal karier, saya punya bakat, disiplin, dan kerja keras untuk sampai di sini. Mengalahkannya adalah tantangan yang saya inginkan untuk menjadi juara dunia," ujarnya kepada wartawan, seperti dikutip Channel News Asia.
Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pencapaian Makhachev diraih di kelas ringan, di mana ia bertarung dengan berat 15 pon lebih ringan dari batas kelas welter 170 pon. Kenaikan kelas ini memang berpotensi menambah kekuatan pukulannya, tetapi postur Garry yang lebih besar dan lengan yang panjang memberinya keunggulan dalam pertukaran pukulan berdiri. Selain itu, latar belakang judo Garry menjadi modal penting untuk meredam gempuran gulat Makhachev yang selama ini menjadi momok lawan-lawannya.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana strategi dan postur tubuh dapat menjadi penentu di level tertinggi. Meski tidak ada petarung Indonesia yang terlibat, dinamika kelas welter UFC selalu menjadi tontonan yang dinanti, terutama dengan munculnya petarung-petarung baru dari Asia. Kemenangan Garry akan membuka peluang bagi petarung Asia untuk bermimpi menembus papan atas, mengingat ia membuktikan bahwa underdog bisa mengalahkan raja yang sudah mapan.
Garry sendiri tidak seterbuka Conor McGregor, rekan senegaranya yang dikenal blak-blakan. Namun, kepercayaan dirinya tidak kalah besar. "Bagi saya, menghadapi dia yang dianggap sebagai bakat generasional adalah tantangan yang saya butuhkan untuk membuktikan bahwa saya benar-benar yang terbaik di planet ini," tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Garry untuk mengukir namanya dalam sejarah, tidak hanya sebagai juara, tetapi sebagai petarung yang berani mengambil risiko terbesar.
Pertarungan ini juga menjadi ujian bagi Makhachev: apakah ia mampu mempertahankan dominasinya di kelas yang lebih berat, atau justru menunjukkan bahwa kehebatannya hanya milik kelas ringan. Jika Garry berhasil, ia tidak hanya mengikuti jejak McGregor, tetapi juga membuktikan bahwa perpaduan teknik dan postur bisa menumbangkan sang juara. Pertanyaan besarnya kini: akankah Makhachev mampu membungkam kritik yang meragukan kemampuannya di kelas welter, atau justru Garry yang akan menulis babak baru dalam sejarah UFC?



