BEI Targetkan Kapitalisasi Pasar Rp30.000 Triliun pada 2030, Incar Posisi 10 Besar Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bursa Efek Indonesia menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun pada 2030, naik hampir tiga kali lipat dari posisi saat ini.
- Target ambisius ini diiringi dengan peningkatan jumlah perusahaan tercatat menjadi 1.100 dan investor pasar modal menjadi 35 juta.
- Direksi baru BEI periode 2026-2030 menyiapkan empat pilar strategi untuk mendorong pertumbuhan transaksi dan non-transaksi.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan target ambisius untuk masuk jajaran 10 bursa saham terbesar dunia dalam lima tahun ke depan, dengan kapitalisasi pasar yang ditargetkan mencapai Rp30.000 triliun pada 2030. Target ini disampaikan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI 2026, Senin (29/6/2026), yang sekaligus mengukuhkan susunan direksi baru untuk masa bakti 2026-2030.
Saat ini, kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp10.302 triliun, menempatkannya di peringkat ke-19 dunia. Adapun rata-rata nilai transaksi harian masih di posisi ke-17 global. Untuk mencapai target tersebut, BEI menyiapkan empat pilar strategi: menumbuhkan bisnis transaksi, mengembangkan bisnis non-transaksi, meningkatkan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta memperluas inklusivitas investor.
Jeffrey menegaskan bahwa seluruh langkah harus didukung oleh infrastruktur perdagangan, pengawasan, dan operasional yang mumpuni. โKami akan membawa bursa efek Indonesia menjadi bursa kelas dunia,โ ujarnya. Visi ini sejalan dengan misi BEI untuk menciptakan pasar yang teratur, wajar, efisien, dan dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan.
Langkah ini menjadi penting bagi pasar modal Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan daya saing di kawasan Asia Tenggara. Dengan target kapitalisasi pasar tiga kali lipat dari level saat ini, BEI optimistis dapat melampaui bursa-bursa besar seperti Bursa Efek Singapura dan Bursa Efek Thailand. Namun, tantangan likuiditas dan jumlah investor ritel yang masih rendah perlu diatasi.
Menurut analis pasar modal, target ini realistis jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang kondusif, seperti insentif pajak bagi emiten baru dan kemudahan akses bagi investor asing. Selain itu, pengembangan produk derivatif dan layanan non-transaksi, seperti data dan indeks, diharapkan menjadi sumber pendapatan baru yang signifikan.
Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah BEI mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan ketat dengan bursa regional. Keberhasilan mencapai target 2030 akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi strategi dan adaptasi terhadap dinamika pasar.



