IHSG Ditutup Hijau di Tengah Defisit Perdagangan: Saham Bank Jadi Pendorong Utama
Baca dalam 60 detik
- IHSG naik 0,87% menjadi 5.744,56, didorong aksi beli saham bank jumbo seperti BBCA, BMRI, dan BBRI.
- Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit pertama dalam enam tahun sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, menekan sentimen pasar.
- Inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan, lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menambah kekhawatiran daya beli.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren positif pada perdagangan Kamis (2/6/2026), ditutup menguat 0,87% atau 49,44 poin ke level 5.744,56. Penguatan ini terjadi meskipun pasar dibayangi data ekonomi makro yang kurang menggembirakan, termasuk defisit neraca perdagangan pertama dalam enam tahun terakhir.
Sepanjang sesi, IHSG sempat melesat lebih dari 1% sebelum akhirnya memangkas kenaikan. Dari total emiten yang tercatat, sebanyak 418 saham berada di zona hijau, 311 stagnan, dan 230 melemah. Namun, likuiditas masih menjadi perhatian karena nilai transaksi hanya mencapai Rp 10,96 triliun, jauh di bawah rata-rata harian. Volume saham yang diperdagangkan juga relatif tipis, yakni 19,18 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar berhasil terangkat sedikit dari level Rp 10.000 triliun, didorong oleh kenaikan IHSG dalam dua hari berturut-turut. Sektor-sektor yang menjadi motor penggerak indeks antara lain bahan baku (+2,22%), industri (+1,78%), konsumer non-primer (+1,74%), dan finansial (+1,67%), berdasarkan data Refinitiv.
Menariknya, hampir separuh nilai transaksi hari ini berasal dari tiga saham bank jumbo: BBRI, BBCA, dan BMRI, yang total menyumbang Rp 5,28 triliun. Kontribusi mereka terhadap IHSG juga signifikan: BBCA menyumbang 17,69 poin, BMRI 7,36 poin, dan BBRI 2,93 poin. Saham-saham lain seperti BRPT, VKTR, dan TPIA juga masuk dalam daftar top movers.
Kenaikan IHSG terjadi di tengah rilis data neraca perdagangan yang mengejutkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, pertama kalinya sejak April 2020. Ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar. Defisit ini menjadi sinyal perlambatan ekonomi global dan menekan sektor eksternal Indonesia.
Di sisi lain, inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan (month-to-month), lebih tinggi dari inflasi Mei yang sebesar 0,28%. Inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunan sebesar 3,34%. Tekanan harga yang meningkat dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan kebijakan moneter ke depan.
Bagi investor Indonesia, pergerakan IHSG yang tetap positif meskipun ada data negatif menunjukkan bahwa pasar masih optimistis terhadap fundamental domestik, terutama sektor perbankan yang solid. Namun, likuiditas yang rendah dan defisit perdagangan perlu diwaspadai sebagai risiko jangka pendek. Ke depan, pasar akan mencermati respons Bank Indonesia terhadap tekanan inflasi dan defisit neraca berjalan.



