Menteri Ekonomi Malaysia: Krisis Energi Global Masih Akan Berlangsung 1-2 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia memperkirakan ketidakpastian harga dan pasokan energi global masih akan membebani pasar hingga dua tahun ke depan.
- Stabilisasi baru diharapkan terjadi pada kuartal ketiga 2026, sementara dampak terhadap logistik dan harga pangan belum akan mereda dalam waktu dekat.
- Malaysia menjadikan krisis ini sebagai momentum memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang melalui Rencana Malaysia ke-13, dengan fokus pada produktivitas, ketahanan pangan, dan transisi energi.

Ketidakpastian harga dan pasokan energi global diprediksi masih akan membebani pasar selama satu hingga dua tahun ke depan, demikian pernyataan Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasir, di hadapan parlemen pada Senin (29/6). Meski harga minyak mentah telah sedikit melunak dari puncaknya, dampak terhadap biaya logistik, pasokan bahan bakar olahan, input pertanian, dan harga barang disebut tidak akan segera mereda.
Akmal menjelaskan bahwa kondisi baru akan mulai stabil secara bertahap pada kuartal ketiga 2026. Namun, pemerintah tidak akan menunggu hingga pemulihan penuh. Sejumlah langkah pemantauan dan intervensi akan terus dilakukan selama masa transisi untuk meredam tekanan terhadap masyarakat, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor industri.
Dalam pidatonya, Akmal menekankan bahwa pemerintah memanfaatkan tantangan saat ini sebagai peluang untuk memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang Malaysia di bawah Rencana Malaysia ke-13 (13MP). Prioritas mencakup peningkatan produktivitas, perluasan industri bernilai tambah tinggi, penguatan ketahanan pangan, percepatan transisi energi, digitalisasi, dan pengembangan talenta.
Khusus soal ketahanan pangan, 13MP akan fokus pada penguatan rantai pasok domestik, perluasan kapasitas agri-pangan, diversifikasi sumber impor, dan pengurangan ketergantungan pada input impor kritis. Akmal memastikan pasokan beras nasional dalam kondisi terkendali, dengan stok penyangga yang cukup untuk lima hingga enam bulan. Sementara itu, pasokan bahan pangan esensial seperti ayam, telur, ikan, susu, dan buah-buahan dinilai aman untuk setidaknya satu bulan ke depan.
Untuk mencegah tekanan pasar global dimanfaatkan sebagai dalih kenaikan harga yang tidak wajar, pemerintah telah meningkatkan penegakan hukum terhadap praktik pencatutan dan penyelundupan. Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup secara rutin memantau harga 316 barang esensial di lebih dari 2.000 gerai ritel di seluruh negeri melalui platform PriceCatcher, yang diawasi oleh 850 petugas pemantau harga.
Bagi Indonesia, situasi serupa juga menjadi perhatian. Ketergantungan pada impor energi dan pangan membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga global. Langkah Malaysia dalam memperkuat ketahanan pangan dan transisi energi dapat menjadi referensi, terutama dalam hal diversifikasi sumber pasokan dan penguatan sistem distribusi domestik. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa untuk mengantisipasi dampak krisis yang masih akan berlangsung dalam waktu dekat?



