Pape Gueye Angkat Kaki dari Timnas Senegal: Protes pada Pelatih atau Isyarat Krisis?
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Villarreal, Pape Gueye, mengumumkan jeda dari timnas Senegal selama staf kepelatihan saat ini masih menjabat, menyusul kekalahan dramatis dari Belgia di Piala Dunia.
- Keputusan Gueye dipicu oleh kontroversi yang melibatkan pelatih Pape Thiaw, termasuk insiden walk-off di final Piala Afrika yang berujung pada pencabutan gelar juara Senegal.
- Langkah ini memicu pertanyaan tentang stabilitas internal skuad Senegal menjelang kualifikasi Piala Dunia dan turnamen mendatang, dengan potensi efek domino pada pemain lain.

Gelandang Senegal Pape Gueye secara terbuka menyatakan akan mengambil jeda dari tim nasional selama staf kepelatihan yang dipimpin Pape Thiaw masih berkuasa. Keputusan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Senegal tersingkir secara dramatis dari Piala Dunia 2026, kalah 2-3 dari Belgia setelah unggul dua gol lebih dulu.
Dalam pernyataan di media sosial, pemain Villarreal berusia 27 tahun itu menegaskan bahwa ia tidak akan bermain untuk Senegal selama masa kepemimpinan Thiaw. โSaya akan kembali untuk mengatakan beberapa hal tentang eliminasi iniโฆ tetapi hari ini saya mengumumkan bahwa selama staf pelatih ini ada, saya akan mengambil jeda dari tim nasional,โ tulis Gueye, yang telah mengoleksi 45 caps dan mencetak dua gol di Piala Dunia ini.
Kekalahan dari Belgia di babak 32 besar Piala Dunia menjadi puncak frustrasi. Senegal sempat tampil dominan lewat gol Habib Diarra dan Ismaila Sarr, namun Romelu Lukaku dan Tielemans menyamakan kedudukan di akhir waktu normal. Di perpanjangan waktu, wasit memberikan penalti yang dianggap merugikan Senegal, dan Tielemans menjadi pahlawan Belgia. Gueye sendiri ditarik keluar pada menit ke-66, digantikan Lamine Camara.
Keputusan Gueye tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak kontroversial Thiaw. Pelatih yang ditunjuk pada Desember 2024 itu menjadi sorotan saat final Piala Afrika 2025 melawan Maroko. Thiaw memerintahkan pemainnya meninggalkan lapangan setelah Maroko mendapat penalti di masa injury time. Setelah penundaan 17 menit, pemain Senegal kembali dan Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti, namun kemudian Gueye mencetak gol kemenangan di extra time. Namun, CAF kemudian membatalkan hasil pertandingan dan menganugerahkan gelar juara kepada Maroko, membuat Senegal kehilangan mahkota.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan pada dinamika internal timnas yang bisa mempengaruhi performa di turnamen besar. Ketidakpuasan pemain terhadap pelatih seringkali menjadi bumerang, seperti yang pernah terjadi di beberapa tim Asia Tenggara. Jika konflik ini tidak segera diatasi, Senegal berisiko kehilangan pemain kunci menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Piala Afrika 2027.
Pertanyaan besarnya, apakah langkah Gueye akan diikuti pemain lain? Dengan talenta seperti Sadio Manรฉ yang mungkin juga merasa tidak nyaman, Senegal bisa menghadapi krisis kepercayaan. Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) harus segera bertindak untuk meredakan ketegangan, atau skuad berjuluk Singa Teranga itu akan terus terpuruk.



