Drama Berulang: Senegal Tersingkir dari Piala Dunia Usai Kontroversi Penalti VAR
Baca dalam 60 detik
- Senegal gagal melaju ke babak 16 besar setelah kalah 3-2 dari Belgia lewat penalti kontroversial di menit akhir perpanjangan waktu.
- Kekalahan ini mengulang skenario pahit di final Piala Afrika 2023, di mana Senegal juga dirugikan oleh keputusan VAR yang kontroversial.
- Kiper pengganti Mory Diaw menjadi sorotan setelah blunder pada gol penyeimbang Belgia, sementara pelatih Pape Thiaw dikritik atas keputusan taktiknya.

Senegal kembali harus merasakan pahitnya tersingkir dari turnamen besar akibat keputusan kontroversial video assistant referee (VAR). Kali ini, di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Tim Teranga Lions kehilangan keunggulan 2-0 dan kalah 3-2 dari Belgia setelah Youri Tielemans mencetak gol penalti pada menit ke-125 di Seattle. Kekalahan ini memperpanjang derita Senegal yang baru saja kehilangan gelar Piala Afrika di meja hijau.
Pelatih Pape Thiaw, yang sebelumnya dielu-elukan sebagai pahlawan setelah membawa Senegal juara Piala Afrika 2023, kini harus menghadapi kritik tajam. Keputusannya menarik keluar gelandang Pape Gueye dan penyerang Iliman Ndiaye di babak kedua dianggap sebagai faktor kunci runtuhnya permainan Senegal. "Kami sudah menguasai pertandingan," ujar Thiaw seusai laga, seraya menyebut kekalahan ini terasa "kejam".
Kontroversi penalti yang menentukan terjadi saat bek Lamine Camara dianggap menjatuhkan Tielemans di kotak terlarang. Wasit asal Honduras, Said Martinez, menyetujui tinjauan VAR yang menyebut Camara mengenai tumit Tielemans. Pemain Senegal memprotes keras, tetapi FIFA telah memperketat aturan untuk mencegah pengulangan insiden walk-off seperti di final Piala Afrika. "Menurut kami itu bukan penalti," kata Thiaw, "tapi kami harus menerimanya."
Kekalahan ini memiliki kemiripan mencolok dengan final Piala Afrika 2023 di Rabat, Maroko. Saat itu, Senegal unggul 1-0 lewat gol Pape Gueye, tetapi wasit menganulir gol tersebut setelah meninjau VAR dan memberikan penalti untuk Maroko. Brahim Diaz gagal mengeksekusi, namun Senegal kemudian dicabut gelarnya oleh badan banding CAF. Kasus itu kini masih dalam proses di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, drama Senegal ini menjadi pengingat betapa rentannya nasib sebuah tim bergantung pada keputusan wasit dan teknologi. Di Indonesia, VAR baru mulai diterapkan di Liga 1 pada musim 2023/2024, dan kontroversi serupa kerap terjadi. Keputusan VAR yang tidak konsisten sering memicu protes dari klub dan suporter, mirip dengan apa yang dialami Senegal. Kejadian ini juga menyoroti pentingnya pelatihan wasit yang lebih baik dan transparansi dalam penggunaan VAR.
Kiper utama Edouard Mendy, yang cedera dan hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan, menjadi saksi betapa berbedanya hasil jika ia bermain. Penggantinya, Mory Diaw, melakukan blunder fatal saat mencoba memukul bola silang yang justru jatuh ke kaki Tielemans. "Setelah kebobolan 2-1, kami bermain semakin dalam dan mereka mencetak gol kedua," aku Thiaw.
Dengan tersingkirnya Senegal, Piala Dunia 2026 kehilangan salah satu tim Afrika terkuat. Bagi Thiaw, perjalanan dari pahlawan Piala Afrika menjadi pecundang Piala Dunia hanya dalam beberapa bulan adalah pukulan telak. Pertanyaan besarnya: akankah ia mampu bertahan di kursi pelatih, atau akankah gelombang kritik dan protes dari para pemain seperti Pape Gueye memaksanya mundur?



