Hari Bhayangkara ke-80: Polres OKI Gelar Doa Lintas Agama, Simbol Toleransi di Tengah Masyarakat Majemuk
Baca dalam 60 detik
- Polres Ogan Komering Ilir menggelar doa bersama lintas agama dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, dihadiri tokoh dari berbagai keyakinan.
- Kegiatan ini merupakan bagian dari Bulan Bakti Polri yang menekankan penguatan toleransi dan moderasi beragama sebagai pilar keamanan.
- Kapolres OKI menegaskan bahwa sinergi antara Polri dan elemen masyarakat menjadi modal utama menjaga stabilitas kamtibmas di Sumatera Selatan.

Polres Ogan Komering Ilir (OKI) menggelar doa bersama lintas agama di Mapolres setempat, Senin (29/6/2026), sebagai puncak rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Acara yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Eko Rubiyanto ini menghadirkan perwakilan dari berbagai agama, menegaskan komitmen Polri dalam merawat kebinekaan dan memperkuat kepercayaan publik.
Dalam sambutannya, AKBP Eko menekankan bahwa perayaan institusi tidak semata-mata bersifat seremonial. "Doa bersama ini adalah wujud syukur atas pengabdian selama delapan dekade, sekaligus pengingat bahwa keamanan tidak bisa diwujudkan sendiri oleh Polri. Dibutuhkan dukungan semua pihak," ujarnya. Ia menambahkan, semangat kebersamaan yang terbangun lewat dialog antarkeyakinan menjadi fondasi untuk menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif di Kabupaten OKI.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Bulan Bakti Hari Bhayangkara ke-80 yang dilaksanakan serentak oleh jajaran Polda Sumatera Selatan. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, doa bersama ini juga menjadi ajang mempertegas nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumsel, Kombes Pol. Nandang Mu'min Wijaya, mengapresiasi inisiatif Polres OKI. Menurutnya, Polri harus tampil sebagai institusi yang merangkul semua golongan tanpa diskriminasi. "Kekuatan Polri tidak hanya terletak pada profesionalisme, tetapi juga pada kedekatan dan kepedulian terhadap masyarakat," kata Kombes Nandang.
Para tokoh agama yang hadir menyambut positif langkah Polres OKI. Mereka menilai bahwa forum doa bersama semacam ini mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan memperkuat rasa persaudaraan. Seorang perwakilan umat Buddha menyatakan, "Keamanan dan kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu."
Di tengah dinamika sosial yang kerap diuji isu intoleransi, kegiatan seperti ini menjadi contoh nyata bahwa aparat keamanan bisa menjadi jembatan antarumat beragama. Polda Sumsel berharap semangat toleransi dan kebersamaan terus tumbuh di masyarakat sebagai fondasi utama stabilitas keamanan. Sinergi antara Polri, tokoh agama, pemerintah daerah, dan seluruh komponen masyarakat akan terus diperkuat untuk mewujudkan Sumatera Selatan yang aman, damai, harmonis, dan sejahtera.
Ke depan, tantangan Polri tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memelihara modal sosial berupa kepercayaan publik. Apakah kegiatan serupa akan menjadi agenda rutin di seluruh jajaran, atau hanya bersifat musiman? Yang jelas, doa bersama lintas agama di OKI telah membuktikan bahwa Polri mampu tampil sebagai perekat bangsa.



