Purbaya Yakin Kredit Tumbuh 14-15% Setelah Suntikan Likuiditas Rp400 Triliun ke Bank BUMN
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah akan menempatkan dana idle Rp400 triliun dari BI ke Himbara untuk menjaga likuiditas perbankan hingga akhir tahun.
- Menteri Keuangan optimistis langkah ini mendorong pertumbuhan kredit ke kisaran 14-15%, melampaui proyeksi BI yang hanya 8-12%.
- Kebijakan ini dinilai mampu mengembalikan fungsi intermediasi perbankan dan mendorong investasi tanpa mengganggu defisit APBN yang tetap di bawah 3%.

Pemerintah memutuskan mengalirkan dana menganggur sebesar Rp400 triliun dari Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) demi menjaga likuiditas perbankan. Langkah ini diyakini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mampu mendongkrak pertumbuhan kredit nasional ke level 14-15% sepanjang tahun ini, jauh di atas perkiraan Bank Indonesia yang hanya 8-12%.
Dalam pernyataannya, Senin (29/6/2026), Purbaya menjelaskan bahwa suntikan likuiditas tersebut merupakan arahan langsung Presiden untuk mengatasi hambatan pertumbuhan ekonomi, terutama kekeringan likuiditas yang selama ini membatasi ekspansi kredit perbankan. Dengan tambahan dana ini, bank-bank pelat merah diharapkan memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan pinjaman ke sektor riil.
Menurut Purbaya, kecukupan likuiditas akan memulihkan mekanisme pasar dan fungsi intermediasi perbankan. โSaya memaksa market mechanism berjalan,โ ujarnya. Ia mengklaim, berdasarkan komunikasi dengan perbankan, rencana ekspansi kredit yang sempat tertahan akibat antisipasi kekurangan likuiditas kini akan kembali dijalankan. Tanpa bantuan pemerintah, kredit diperkirakan hanya tumbuh 6-8%.
Keyakinan Menkeu ini juga didasari oleh proyeksi bahwa suku bunga di pasar akan turun seiring melimpahnya likuiditas. โEkonomi siap lari lagi,โ tegasnya. Purbaya menambahkan, Presiden ingin semua gangguan ekonomi dihilangkan agar kepercayaan investor pulih dan investasi mengalir masuk.
Di sisi fiskal, Purbaya memastikan kebijakan ini tidak akan mengerek defisit APBN 2026 melebihi 3%. โKondisi fiskal aman, hampir pasti defisit tidak lebih 3%,โ pungkasnya. Hal ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tetap berpegang pada disiplin fiskal meski tengah menggenjot likuiditas.
Bagi pelaku pasar dan dunia usaha di Indonesia, langkah ini menjadi angin segar. Sektor perbankan yang selama ini tertekan oleh likuiditas ketat kini mendapat ruang bernapas. Namun, tantangan tetap ada: apakah permintaan kredit dari sektor riil akan merespons positif? Jika ekspansi kredit benar-benar terjadi, pertumbuhan ekonomi bisa terdorong, tetapi jika hanya berujung pada penumpukan dana di bank, efeknya akan terbatas. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat perbankan mampu menyalurkan dana tersebut secara produktif.



