Gempa Ganda Venezuela: 1.430 Tewas, Kemarahan Warga Meluap pada Respons Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa dangkal berkekuatan 7,2 dan 7,5 SR dalam waktu singkat menewaskan sedikitnya 1.430 orang dan menyebabkan 68.900 lainnya hilang di Venezuela.
- Warga dan relawan internasional berusaha mencari korban selamat di tengah keterbatasan alat berat dan kelambanan aparat, yang justru sibuk berswafoto di lokasi bencana.
- Krisis kemanusiaan ini menguji legitimasi kepemimpinan Delcy Rodriguez dan memperparah isolasi Venezuela di tengah kekacauan ekonomi yang sudah berlangsung lama.

Kemarahan dan keputusasaan meledak di negara bagian La Guaira, Venezuela, Sabtu (28/6) setelah jumlah korban tewas akibat rangkaian gempa bumi dahsyat melonjak menjadi 1.430 jiwa, sementara lebih dari 68.900 orang masih dinyatakan hilang tiga hari pascagempa.
Dua gempa dangkal berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter yang mengguncang dalam waktu berdekatan telah meratakan bangunan di sepanjang pesisir utara Venezuela. Di La Guaira, salah satu wilayah terdampak paling parah, warga menggunakan sekop, tali, dan tangan kosong untuk menggali puing-puing beton yang bertumpuk. Mereka dibantu oleh tim penyelamat internasional yang mulai tiba, namun keterlambatan respons pemerintah memicu amarah.
Banyak warga menilai aparatโmiliter, polisi, dan kadetโtidak siap menghadapi skala tragedi ini. Keluhan utama adalah ketiadaan alat berat, kurangnya koordinasi, dan tindakan simbolis pejabat yang justru berswafoto di depan bangunan runtuh tanpa memberikan bantuan nyata. "Mereka datang untuk makan arepa dan berfoto agar terlihat bekerja," ujar Yeison Marcano, seorang warga yang ikut mencari korban. "Seragam mereka bahkan tidak kotor seperti kami. Kami sudah di sini tiga hari."
Ketegangan memuncak ketika warga menghadang ekskavator yang hendak meninggalkan lokasi reruntuhan, memaksa operator turun. Aksi itu terjadi setelah petugas pemerintah berfoto di depan gedung rata dengan tanah lalu pergi tanpa membantu. Di tempat lain, tim penyelamat terus berupaya mendeteksi tanda-tanda kehidupan. "Kami penyelamat dari militer Meksiko, jika ada yang masih hidup di bawah, buat suara atau berteriak! Sekarang!" teriak seorang anggota tim Meksiko sambil menjulurkan kepala ke celah-celah beton.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan lebih dari 6 juta orang terkena dampak, termasuk 2 juta di ibu kota Caracas. Para ahli menyebut kerusakan diperparah oleh kedalaman dangkal kedua gempa yang terjadi beruntun. Hingga Sabtu, gempa susulan berkekuatan 4,8 masih terasa. Bandara Internasional Simon Bolivar yang melayani Caracas rusak parah, namun satu landasan pacu masih berfungsi berkat perbaikan tim AS. Sebuah kapal angkut Angkatan Laut AS telah berlabuh di lepas pantai untuk menerima korban luka yang dievakuasi melalui udara.
Bencana ini menjadi ujian berat bagi Presiden Sementara Delcy Rodriguez, yang menjabat sejak Januari setelah penangkapan Nicolas Maduro oleh AS. Venezuela telah terpuruk dalam krisis ekonomi selama lebih dari satu dekade, dan banyak warga menolak legitimasi pemerintahannya. Di tengah kepanikan, kisah-kisah kemanusiaan muncul: seorang bayi 18 hari ditemukan selamat setelah 12 jam pencarian, dan seorang nenek 69 tahun yang diselamatkan tim El Salvador meminta minuman Coca-Cola begitu keluar dari reruntuhan.
Namun, skala tragedi masih jauh dari tertangani. Dengan lewatnya batas waktu emas 72 jam, peluang menemukan korban selamat semakin tipis. Pertanyaan besarnya: mampukah pemerintahan Rodriguez yang tidak populer mengelola krisis ini tanpa bantuan internasional yang masif, sementara warga terus kehilangan kepercayaan?



