Firmus Teknologi Gaet Nvidia: 170.000 GPU untuk AI di Batam Mulai 2027
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan infrastruktur AI asal Australia, Firmus Technologies, menjalin kemitraan strategis dengan Nvidia untuk menyediakan akses daya komputasi terjangkau bagi perusahaan AI rintisan.
- Kesepakatan ini mencakup pengiriman 170.000 unit GPU ke Batam, Indonesia, pada 2027-2028, dengan proyeksi pendapatan Firmus mencapai US$30 miliar dalam enam tahun pertama.
- Langkah ini dipandang sebagai upaya meratakan persaingan di industri AI, di mana perusahaan kecil kerap kesulitan bersaing dengan raksasa teknologi yang memiliki akses modal lebih besar.

Perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) asal Australia, Firmus Technologies, mengumumkan kemitraan strategis dengan raksasa semikonduktor Amerika Serikat, Nvidia Corp, pada Senin (29/6). Kolaborasi ini bertujuan menyediakan akses daya komputasi yang lebih terjangkau bagi perusahaan AI rintisan dan pengembang skala kecil-menengah.
Dalam kesepakatan tersebut, Firmus akan membeli infrastruktur Nvidia dan menjual layanan cloud bertenaga GPU Nvidia kepada pelanggan yang disebut sebagai "AI Native". Model bisnis ini memberikan Nvidia pendapatan dari penjualan produk serta bagi hasil dari layanan cloud. Firmus menargetkan pengiriman 170.000 unit Graphics Processing Unit (GPU) mulai kuartal pertama 2027 hingga awal 2028, yang akan ditempatkan di Batam, Indonesia.
Firmus memperkirakan pendapatan hingga US$30 miliar selama enam tahun pertama kontrak, berdasarkan komitmen pelanggan. Pendiri perusahaan yang berbasis di Australia ini menegaskan bahwa kemitraan tersebut akan memudahkan perusahaan AI kecil dan berkembang untuk mengakses infrastruktur teknologi yang selama ini didominasi pemain besar. "Kami berupaya menjembatani kesenjangan antara keunggulan biaya yang dinikmati perusahaan besar berkat peringkat kredit tinggi, dengan para pendatang baru. Ini adalah cara nyata untuk sedikit meratakan lapangan bermain, memberi kesempatan bagi yang kecil untuk bersaing," ujar Co-CEO Firmus, Tim Rosenfield, kepada Reuters.
Nvidia sendiri telah menjadi investor Firmus melalui partisipasi dalam penggalangan dana sebelumnya. Pada April lalu, Firmus mengumumkan telah mengumpulkan dana sebesar US$1,35 miliar dalam enam bulan terakhir, yang membawa valuasi perusahaan menjadi US$5,5 miliar pasca-pendanaan. Perusahaan juga telah menunjuk bank investasi untuk mempersiapkan potensi penawaran umum perdana (IPO), meskipun Rosenfield menolak berkomentar lebih lanjut.
Bagi Indonesia, penempatan GPU di Batam menegaskan posisi negara ini sebagai hub infrastruktur digital regional. Kehadiran pusat data AI berskala besar dapat menarik lebih banyak investasi teknologi asing dan mempercepat adopsi AI di sektor industri dalam negeri. Namun, tantangan seperti ketersediaan energi dan sumber daya manusia terampil masih perlu diatasi agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal.
Ke depan, kesepakatan Firmus-Nvidia berpotensi mengubah peta persaingan di industri AI global. Pertanyaan yang muncul: akankah model kemitraan semacam ini menjadi tren baru yang memungkinkan lebih banyak pemain kecil ikut serta dalam revolusi AI, atau justru semakin memperkuat dominasi Nvidia sebagai pemasok utama?



